Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Menyalahpahami ISO 9001 (1): Sertifikat ISO 9001 Tujuan Kami


oleh: Sik Sumaedi 
Bidang Sistem Mutu, P2SMTP-LIPI   

Penulis pernah bertanya "Apa itu ISO?" kepada beberapa orang, dan sebagian dari mereka menjawab “ISO adalah Internasional Standard Organization”. Setujukah Anda? Sebenarnya, pertanyaan di atas adalah pertanyaan “remeh-temeh” yang tidak berpengaruh pada performa sistem mutu organisasi Anda. Hanya saja, kegagalan menjawab pertanyaan simpel tersebut mengindikasikan adanya kemungkinan-kemungkinan bahwa ada kesalahpahaman terhadap ISO 9001, yang akibatnya bisa fatal bagi performa sistem.

Selama bulan Januari hingga Oktober 2009, penulis mengunjungi 30 organisasi yang ingin menerapkan ISO 9001, mulai dari industri manufaktur, asuransi, perbankan, konstruksi, hingga organisasi pendidikan. Berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan organisasi-organisasi tersebut, penulis ingin berbagi sedikit beberapa persepsi tentang ISO 9001 yang menurut penulis kurang tepat, yaitu kesalahpahaman yang pertama adalah "Sertifikat ISO 9001 Tujuan Kami". 

Literatur ISO 9001 telah membedakan dua motivasi utama sertifikasi ISO 9001, yaitu motivasi yang berorientasi kepentingan internal organisasi dan motivasi yang berorientasi pada kepentingan eksternal (Proyogo & Sohal, 2006).  Contoh, motivasi penerapan & sertifikasi ISO 9001 yang berasal dari sisi internal organisasi adalah keinginan untuk peningkatan mutu, produktivitas, atau efisiensi. Sementara, motivasi yang berasal dari sisi eksternal, di antaranya kewajiban adanya sertifikat ISO 9001 oleh customer untuk dapat memasok produk atau sekedar untuk meningkatkan brand image dengan pencantuman logo ISO 9001 pada kartu nama, brosur, spanduk atau materi promosi lainnya.  Mengingat hal itu, maka tujuan akhir dari penerapan & sertifikasi ISO 9001 haruslah disesuaikan dengan motivasi organisasi. Sayangnya, tidak sedikit orang beranggapan bahwa perolehan sertifikat ISO 9001 merupakan tujuan akhir sekaligus parameter keberhasilan penerapan & sertifikasi tanpa memperhatikan apa sebenarnya motivasi ISO 9001.  

Perolehan sertifikat ISO 9001 bukanlah jaminan bahwa organisasi akan memperoleh peningkatan performa kinerja. Beberapa organisasi tersertifikasi ISO 9001 memang menunjukkan manfaat peningkatan performa kinerja, tapi beberapa lainnya hanya memperoleh manfaat dari aspek pemasaran saja (Casadesis, Gimenez & Heraz, 2001). Ekstrimnya, Aslanertik & Tabak (2006) bahkan memaparkan bahwa beberapa organisasi merasa tidak ada perubahan sebelum dan sesudah menerapkan ISO 9001, tidak ada peningkatan mutu, produktivitas ataupun profitabilitas, dan tidak juga menambah daya saing.  

Pemahaman terhadap tujuan penerapan ISO 9001 tentunya akan berpengaruh pada metode pengembangan sistem. Di sisi lain, bagaimana cara organisasi mengembangkan ISO 9001 merupakan faktor kritis yang menentukan apakah sebuah organisasi akan memperoleh manfaat atau tidak dari proses sistem yang ada (Hughes, Williams, & Ryall, 2000 dalam Proyogo & Sohal, 2006).  

Organisasi yang ingin memperoleh peningkatan dari sisi internal, sebenarnya tidak terlalu butuh sertifikat ISO 9001. Keberhasilan penerapan & sertifikasi ISO 9001 yang berorientasi internal dapat tercermin dari kondisi peningkatan atas poin-poin yang menjadi motivasi organisasi, antara lain: peningkatan mutu, produktivitas, atau efisiensi dll. Hal tersebut dapat diukur dengan pencapaian sasaran mutu. Sasaran mutu adalah segala sesuatu yang ingin dicapai, terkait dengan mutu (ISO 9000,2000). Sasaran mutu harus dibuat merepresentatifkan apa keinginan mendasar organisasi sehingga pengukuran dapat menjadi tepat sasaran. Ringkasnya, indikator akhir keberhasilan penerapan ISO 9001 bagi organisasi berorientasi internal bukanlah sertifikat ISO 9001 tapi pencapaian sasaran mutu organisasi sebelum dan sesudah penerapan ISO 9001.  

Mengapa? Karena bisa jadi suatu organisasi memperoleh sertifikat ISO 9001, padahal sasaran mutunya tidak tercapai. Atau ekstrimnya, bisa jadi organisasi sebenarnya hanya mempersiapkan diri saat akan diaudit badan sertifikasi, sementara pada proses keseharian justru tidak menerapkan. Hal ini dikuatkan dengan penelitian Sousa-Pouza, Altinkilinc & Searcy yang mengungkapkan adanya organisasi yang berada dalam kondisi formally death yakni memiliki dokumen sistem manajemen mutu, tetapi tidak menjalankan fungsinya.

Diposting oleh SS, AFS Pada 17-Februari-2010 20:46:04

Kembali Share via facebook

   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id