Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

[AMTeQ] Prof Yuri Zagloel: Membangun Budaya Mutu Individu, Organisasi, Nasional dan Global


(P2SMTP-LIPI Tangerang Selatan, 19 Oktober 2011). Pada hari Senin 18 Oktober 2011 telah dilaksanakan Seminar Tahunan Annual Meeting on Testing and Quality (AMTeQ) ke-6, dihadiri oleh 300 peserta dari akademisi, pemerintah, industri dan masyarakat. Setelah acara dibuka secara resmi oleh Kepala LIPI dengan Pidato Pembukaan yang dibacakan oleh Deputi Jasa Ilmiah, Dr.Ir. Fatimah Z.S. Padmadinata; maka dilanjutkan dengan presentasi kunci yang disampaikan oleh Prof Dr Teuku Yuri Zagloel, Ketua Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia, dengan judul Membangun Budaya Mutu Indonesia: Lingkup Individu, Organisasi dan Nasional.

Prof. Yuri mengawali uraiannya dengan sejarah sistem manajemen mutu secara global, bahwa semasa perang dunia II, Pengendalian Kualitas Statistik dirancang untuk mengakselerasikan produktifitas militer, caranya adalah melalui monitoring seluruh proses operasi perusahaan secara sistematik, mulai dari awal penyediaan material sampai akhir proses produksi, sehingga kualitas bisa ditingkatkan secara drastis. Salah satu yang menguasai bidang ini adalah Dr Edward Deming. Awalnya Dr Deming membantu pasukan pendudukan sekutu untuk melakukan sensus penduduk di Jepang. Saat itu industri di Eropa dan Jepang hancur karena perang, sehingga industri Amerika nyaris tidak punya pesaing. Sementara industri Amerika sedang terlena dengan kehebatan ekonominya, ribuan orang Jepang mengantre untuk belajar sistem mutu baru ini termasuk Keidanren , organisasi elite para pemimpin industri Jepang. Penyebaran sistem ini juga didukung penuh oleh persatuan Ilmuwan dan Teknisi Jepang (JUSE). Dari sisi manusia juga ditingkatkan, karena sistem ini mengharuskan pekerja dan manajemen bekerja sama dan terus meningkatkan kualitas produk dan proses produksinya.

Mulai saat itu bangsa Jepang belajar banyak tentang mutu yang selanjutnya menjadi budaya mutu. Pada pertengahan 1950-an produk-produk Jepang kualitasnya semakin baik mulai menyebar ke seluruh dunia bahkan di tahun 1960-an Amerika mulai merasakan produk Jepang lebih bagus dan lebih murah.

Dalam periode 1970-1980 pengetahuan kontrol kualitas berevolusi dari reaktif menjadi proaktif, yang dikembangkan oleh Deming, Juran, Crosby dan Feigenbaum. International Organisation for Standarization memprakasai pembentukan international quality system standard dan pada bulan Maret 1987, ISO 9000 series diluncurkan. Sejak itu ISO 9000 series menjadi standar yang paling diterima di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bahkan sejak 1993 menjadi kewajiban industri untuk masuk ke komunitas Eropa.

Faktor-Faktor Penghambat Budaya Mutu 
Perusahaan-perusahaan di Indonesia, swasta maupun BUMN belum menjadi tonggak ekonomi yang kuat bagi perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hanya sedikit merek Indonesia yang terkenal secara internasional dibanding negara-negara tetangga.

Menyitir pendapat Prof Emil Salim, bahwa sebenarnya Indonesia mempunyai kelebihan yaitu kekayaan alam, hutan tropis dan laut yang melimpah; juga merupakan negara berdaulat dengan politik yang relatif stabil. Sedangkan kekurangannya hanya satu, yaitu tidak ada kebijakan yg terintegrasi antara industri, perdagangan, pengembangan SDM dan pengembangan teknologi. Dampaknya antara lain industri strategis Indonesia belum memberi kontribusi pada pertumbuhan ekspor dan pertumbuhan industri secara menyeluruh. Sebaliknya penyumbang terbesarnya adalah industri padat karya yang berorientasi ekspor seperti tekstil, pakaian jadi dan sepatu. Padahal sektor ini punya kelemahan yaitu tingginya kandungan impor, teknologi rendah, lemahnya jaringan UKM dan rendah nya produktifitas.

Prof Yuri menyampaikan juga bahwa faktor penghambat budaya mutu yang lain adalah pemikiran Prof B J Habibie yaitu elum efektifnya usaha-usaha menganalisis jauh ke depan tentang perlunya peran ilmu-ilmu sosial-humaniora dalam menyerasikan dan menggali budaya lokal agar dapat bersinergi dengan budaya global.

Faktor-faktor penentu budaya mutu lingkup individu dan organisasi 
Selain masalah-masalah yang fundamental seperti ketergantungan dengan bahan baku impor, kurang kondusifnya aturan industri dan tenaga kerja, industri di Indonesia umumnya mempunyai kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan pelanggan, kurangnya partisipasi karyawan dan kurangnya perbaikan berkelanjutan.

Menurut Prof Yuri solusi yang mungkin dilakukan dari sudut pandang Total Quality Management (TQM) ada 3 hal, yaitu: memperbaiki kebiasaan kerja individu dan kelompok dengan 7 Habits-nya Steven Covey; meningkatkan produktifitas produksi dengan meniru kisah sukses Toyota Way-nya Liker; dan mengutamakan inovasi dengan merefer ke Blue Ocean Strategy-nya Chan Kim and Mauborgne.

Membangun Budaya Mutu dan Produktivitas Nasional 
Di bagian akhir presentasi-nya, Prof Yuri menyampaikan tentang bagaimana cara membangun budaya mutu dan produktifitas nasional dengan menyitir pemikiran Prof Zuhal yaitu perlu kesungguhan dalam membangun sumberdaya manusia, meningkatkan research and development, sistem finansial, kemajuan pengetahuan dalam bidang pertanian, manufaktur dan sektor jasa. Selanjutnya suatu sistem penerapan teknologi di bidang industri yang memiliki potensi padat pengetahuan perlu dikembangkan dan diterapkan secara terprogram di segala sektor.

Sementara sektor swasta harus terus menjadi mesin utama pertumbuhan dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Sementara sektor publik memberikan dukungan terhadap perkembangan sektor swasta pada tingkat lanjut. Terus mengevaluasi dan mengembangkan sistem pendidikan nasional tingkat akademis maupun profesi. Termasuk pemerataan pendidikan seluruhh Indonesia. Karena budaya mutu yang diharapkan terkait sangat erat dengan susksesnya pendidikan bagai seluruh rakyat Indonesia.

Diposting oleh AFS Pada 19-Oktober-2011 22:14:26

Kembali Share via facebook

   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id