Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Memahami Urgensi Persyaratan Lingkungan Kerja pada ISO 9001: 2008

ISO 9001 adalah standar sistem manajemen mutu yang paling terkenal dan paling banyak diterapkan oleh organisasi di seluruh dunia. Banyak alasan mengapa ISO 9001 banyak diimpelementasikan. Salah satu alasannya karena ISO 9001 menekankan pada kepuasan pelanggan dimana di era globalisasi dengan persaingan yang semakin ketat, kepuasan pelanggan merupakan kunci utama organisasi dapat bertahan.align="justify" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: helvetica; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: rgb(255, 255, 255); font-size: small; "

Salah satu hal cukup unik dari ISO 9001 (2008) adalah keberadaan klausul 6.4 tentang lingkungan kerja. Dalam klausul tersebut dikatakan bahwa organisasi diharuskan untuk mengelola lingkungan kerja guna menjamin tercapainya kesesuaian dengan persyaratan produk. Mengapa ISO 9001 mensyaratkan pengelolaan lingkungan kerja? Seberapa penting makna pengelolaan lingkungan kerja hingga ia dikategorikan pula sebagai salah satu praktek sistem manajemen mutu terbaik? Tulisan ini bermaksud untuk mengkajinya.


Memahami Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja menurut Sukanto dan Indriyo (2000, dalam Khoiriyah, 2009) adalah “segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja yang dapat mempengaruhi dalam bekerja meliputi pengaturan penerangan, pengontrolan suara gaduh, pengaturan kebersihan tempat kerja dan pengaturan keamanan tempat kerja”. Sedangkan pengertian lingkungan kerja menurut Nitisemito (1992, dalam Khoiriyah, 2009) adalah “segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan”.

Berdasarkan definisi di atas, secara garis besar, lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan yang berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara lansung maupun tidak langsung. Sebagai contoh, apa yang disebutkan oleh Sukanto dan Indriyo. Di sisi lain, lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja baik hubungan dengan atasan maupun sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan.


Antara Lingkungan Kerja dan Produktivitas
Tujuan dari penerapan sistem manajemen mutu berbasis ISO 9001: 2008 adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan menjamin bahwa produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan pelanggan, regulasi, dan peraturan perundangan yang berlaku (ISO 9001, 2008). Agar dapat menghasilkan produk yang bermutu dan sesuai dengan persyaratan pelanggan, maka organisasi perlu untuk menjaga poduktivitas kerja karyawannya. Dalam konteks inilah, keberadaan persyaratan lingkungan kerja menjadi penting dalam suatu sistem manajemen mutu.

Definisi utama dari produktivitas adalah perbandingan antara input dan output (Oeij et al, 2012). Menurut Rutkauskas and Paulavicˇiene˛ (2005, dalam Oeij et al, 2012), produktivitas berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas. Lebih rinci, Mali (1978, dalam Taiwo, 2009) mengungkapkan bahwa produktivitas adalah

the measure of how resources are brought together in organizations and utilized for accomplishing a set of results. Productivity is reachingclass="Apple-converted-space" the highest level of performance with least expenditure of resources”.

Banyak artikel, baik yang bersifat anekdot maupun hasil studi empiris telah memaparkan bahwa lingkungan kerja secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi produktivitas kerja. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Akinyele Samuel Taiwo dari School of Business, Covenant University, Ota, Ogun State, Nigeria mengatakan bahwa sekitar 86 persen masalah produktivitas kerja karyawan disebabkan oleh lingkungan kerja organisasi. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa

Conducive work environment stimulates creativity of employees that may lead to better methods that would enhamce productivity. Improvement in work environment can lead to higher productivity of employees and bad working conditions contribute to low productivity of employees”.

Lingkungan kerja yang baik akan membuat karyawan merasa nyaman dalam bekerja. Kenyamanan inilah yang kemudian akan melahirkan motivasi dalam bekerja. Adanya motivasi dalam bekerja mendorong seorang karyawan menjadi produktif.class="Apple-converted-space" 

Lingkungan fisik tempat kerja yang tertata rapi, bersih, dan ergonomis akan membuat karyawan lebih nyaman dalam bekerja dibandingkan lingkungan kerja yang serabutan, kotor, dan tidak ergonomis. Sebagai contohnya, tempat duduk yang tidak ergonomis dapat menyebabkan si pemakai menjadi mudah lelah, pencahayaan yang kurang dapat mengurangi kecepatan kerja karyawan, dll. Hal ini tentu saja dapat menghambat produktivitas karyawan.

Dalam konteks lingkungan non fisik yang berkaitan dengan hubungan yang terjalin dengan rekan kerja baik sejawat maupun dengan atasan atau bawahan, tidak adanyaclass="Apple-converted-space" chemistry di dalam hubungan tersebut akan mengakibatkan hubungan komunikasi menjadi kurang lancar, timbul perasaan tidak betah, dan merebaknya gejala distorsi kognitif, yaitu adanya penilaian bahwa apapun yang dikatakan atau yang dilakukan oleh orang lain selalu salah. 


Penutup & Insight
ISO 9001 adalah sebuah standar internasional tentang penerapan sistem manajemen mutu yang telah banyak diimplementasikan oleh oragnisasi-organisasi di dunia. Tujuan dari standar ini adalah untuk menjamin bahwa produk atau layanan yang dihasilkan oleh organisasi sesuai dengan persyaratan pelanggan, sesuai dengan regulasi, dan peraturan perundang-undangan lainnya (ISO 9001, 2008). Sayangnya, penerapan setiap persyaratan yang terdapat di dalam standar terkadang terlalu disederhanakan menjadi “yang penting didokumentasikan”. Akibatnya, tidak sedikit organisasi yang menerapkan ISO 9001, bukan mengembangkan suatu sistem manajemen mutu yang terdokumentasi tetapi membudayakan “sistem manajemen untuk mendokumentasikan” (Gaspersz, 2002).

ISO 9001: 2008 berisi tentang persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh organisasi dalam rangka menerapkan sistem manajemen mutu. Persyaratan-persyaratan tersebut dikembangkan atas dasar penelitian terhadap organisasi-organisasi yang memiliki sistem manajemen mutu yangclass="Apple-converted-space" sustained success. Salah satu persyaratan yang diatur dalam standar ini adalah lingkungan kerja organisasi. Pengelolaan lingkungan kerja di organisasi menjadi penting dalam rangka menjamin terlaksananya sistem manajemen mutu karena lingkungan kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Tanpa adanya produktivitas kerja yang baik, menjadi suatu hal yang mustahil bagi organisasi untuk memelihara konsistensi mutunya.

Pada akhirnya,class="Apple-converted-space" insight dari tulisan ini adalah mengajak seluruh organisasi baik yang menerapkan ISO 9001 maupun tidak untuk menciptakan kondisi lingkungan kerja yang kondusif, baik lingkungan fisik maupun lingkungan non fisik. Manajemen puncak suatu organisasi perlu untuk mengkreasikan program-program kerja yang dapat mendukung kondisi ini, semisal penerapan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Setsuke) untuk memelihara lingkungan fisik atau program yang berorientasi pada “manusia” untuk memelihara lingkungan non fisik. Lebih lanjut, keberadaan program kerja tersebut tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya inisiatif, kemauan, dan dukungan dari semua pihak dalam organisasi. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan kerja yang kondusif menjadi tanggung jawab bersama.


Ucapan Terima Kasih
Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan “Peningkatan Maturitas Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 Pada P2SMTP LIPI”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada anggota tim maturitas yang telah mereview dan memberi masukan terhadap tulisan ini.


Referensi
Gaspersz, Vincent (2002). ISO 9001:2000 and Continous Quality Improvement. PT.Gramedia Pustaka Jakarta.

ISO 9001:2008, International Standard, Quality Management Systems Requirements

Khoiriyah, Lilik. 2009. “Pengaruh Upah dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada CV. Aji Bali Jaya Wijaya Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oeij, P.R.A et al. 2012. “Reflective Practive Developing The Organization’s Productivity Strategy in Various Sectors of Industry”, International Journal of Productivity and Performance Management Vol. 61 No. 1, pp. 93-109.

Taiwo, Akinyele Samuel. (2010). “The Influence of Work Environmnet on Workers Productivity : A Case of Selected Oil Gas and Gas Industry in Lagos, Nigeria”, African Journal of Business Management Vol. 4 (3), pp. 299-307. (TR)




Diposting oleh Razor Pada 27-Maret-2012 02:24:58

Kembali Share via facebook

   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id