Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Wisata pribadipun menjadi bahan observasi

Pada awal November 2016, saya diberi kesempatan untuk berwisata untuk mendampingi istriku bersama Dharma Wanita LIPI ke Hong Kong dan Shenzen, RRC. Lokasi tujuan wisata ini bukanlah menjadi pilihanku, melainkan hanya untuk menemani istriku dalam perjalanan tersebut. Karena dalam koordinasi Dharma Wanita, maka anggota pria menjadi minoritas, termasuk Pak Lugrayasa mantan Kepala Kebun Raya “Eka Karya” Bali; hanya 4 pria dari 51 peserta. Ada beberapa keunggulan di Hong Kong dan Shenzen yang menurutku dapat dipertimbangkan untuk diterapkan di sini, namun tidak berarti saya setuju dengan ideologi komunisnya, serta banyaknya penawaran barang dengan harga sangat tidak wajar.

Efisiensi: Berhubung tak perlu visa untuk masuk Hong Kong, maka hanya satu "dokumen" kecil imigrasi yang harus diisi menjelang mendarat. Dokumennya efektif, berukuran saku (sekitar 8,5 cm x 8,5) cm, rangkap 3 berlem di satu tepi, terdiri dari: lembar 1 (asli) informasi diri penumpang, sarana transpor masuk, tujuan dan alamat yang dituju, lembar 2 (carbon copy bagian atas dari lembar 1), sisanya sarana transpor keluar, lembar 3 informasi (Lihat Gambar 1). Lembar 1 akan dicabut saat masuk Hong Kong, Lembar 2 dan 3 dikembalikan untuk keluar Hong Kong. Sekali isi, semua selesai. Bagaimana dengan di negeriku? Mestinya bisa ditiru, bahkan yang lebih efisien lagi, melalui email atau sejenisnya.

Sertifikasi: Menurut pemandu wisata kami, bernama Djong Tjui Fong, panggilannya Bu Finda, dengan nomor lisensi TG 06784 (lihat Gambar 2), semua pekerja di Hong Kong disertifikasi, termasuk supir bus, supir taksi, pemandu wisata, penjual tiket wisata, penjaga tempat wisata, tukang batu, arsitek, penjaga karcis, pengawas. Pokoknya, semua pekerja disertifikasi. Asumsi saya, sertifikasi berbasis ISO 17024. Dengan demikian, semua pekerja bekerja secara profesional, rajin kerja, proporsional, sangat membantu, khawatir diadukan ke Pemerintah, karena bisa berdampak pada penangguhan atau bahkan pencabutan sertifikasinya jika kinerjanya buruk. Bagaimana dengan di negeriku? Tidak mudah membangunkan dari tidur panjangnya. Padahal “lembaga” Sertifikasi Personel – LIPI bisa dikembangkan ke arah serifikasi yang lebih luas. Maklum, penulis pernah menjadi Eksekutif Senior, Manajer Mutu, Anggota Komite Penilai dan Komite Sertifikasinya.

 

Antri: Sadar bahwa penduduknya banyak, maka semua pelayanan harus antri agar tertib. Antri ini diawasi oleh petugas dan tidak segan-segan petugas menegur yang tidak antri, sehingga semua mendapat perlakuan yang sama. Namun, ada keistimewaannya, yaitu pengantri yang berumur lebih dari 65 tahun dan pengantri yang membawa bayi dan anak kecil serta penyandang disabilitas, tidak antri sebagaimana orang normal melainkan ada loket khusus untuk mereka yang antriannya pendek, 5 sampai 10 orang, sementara pengantri umum, bagaikan ular yang saya perkirakan 500 orang (lihat Gambar 3). Bagaimana dengan di negeriku? Susah, karena masih ada diskresi, pejabat didahulukan, dan rakyat biasa harus mengalah. Mungkin ada yang tanya: Bukankah di imigrasi tak boleh memotret? Benar, namun Gambar 3 didapat penulis dari internet. Bahkan penulis pernah mengusulkan agar penduduk Indonesia secara sukarela bisa menjadi agen disiplin nasional dengan hak menegur siapapun yang tidak disiplin dan melaporkannya ke semacam Komnite Disiplin Nasional agar pelanggar disiplin kena sanksi, namun rupanya belum ada yang tertarik.

 

Efektif: Sadar bahwa sumber daya manusia itu adalah sangat penting, maka orang di usia produktif berproduksi seefektif mungkin, sehingga pada masa-masa libur dimanfaatkan untuk istirahat di rumah susun atau hiburan yang mendidik dan hampir tidak melihat suatu kegiatan manusia yang tanpa makna, seperti nongkrong dan ngobrol di pinggir jalan sembari merokok atau kebut-kebutan. Tidak ada. Bahkan pada hari Ahad, toko di super mall buka hingga jam 22:00. Saya dengar juga bahwa televisi yang ada di rumah atau di hotel dikenai bayaran alias TV berbayar, dan mahal. Artinya apa? Tak ada hiburan yang hanya sekedar hiburan, kalau toh ada maka harus membayar. Bagaimana dengan di negeriku? Setiap hari di sini adalah hiburan dan hiburan, yang menurut penulis sebagai pemborosan nasional.

 

Cerdas: Walau menjadi tukang kebun yang memangkas dahan dan ranting pepohonan di tepai jalan raya agar rapih, mereka dibekali dan menggunakan teknologi terkini. Memotong dahan dan ranting pohon yang tinggi tidak perlu memanjat pohon tersebut, namun dengan "golok" bermesin bertangkai panjang, mereka menyorongkan ke atas, dahan dan ranting, kemudian “golok’nya digerakkan untuk memotong kemudian berjatuhan (lihat Gambar 4). Bagaimana dengan di negeriku? Mungkin ini dapat ditiru dan penulis yakin bahwa ini adalah teknologi sederhana. Boleh jadi bengkel “Alsintan” (Alat Mesin Pertanian) di daerah Serpong, Tangerang Selatan bisa membuatnya atau di BPI – LIPI Bandung bisa membuatnya.

 

Lalu-lintas lancar: Walau kota Shenzen berpenduduk 18 juta jiwa, namun lalu lintas, termasuk dalam kota, lancar, hampir tidak ada kemacetan. Perempatan atau pertigaan berlampu lalu-lintas sangat jarang ditemui. Semua pengemudi menjiwai bahwa berhenti di tepi jalan untuk menunggu penumpang yang penumpangnya belum kelihatan adalah pelanggaran lalu lintas, kecuali di lapangan atau tempat parikir berbayar. Ketika pengemudi melanggar lalu lintas, tidak ada denda karena SIM-nya bisa dicabut, dan keputusan pencabutan SIM diumumkan di website Polisi Lalu Lintas, dan harus segera diurus. Jika peristiwa pelanggaran disidang dan sopirnya kalah di depan hukum, maka SIM-nya dibekukan selama 3 tahun, paling juga bisa menjadi, misalnya, tukang kebun. Sehingga tidak ada satupun yang berani melakukan pelanggaran. Selain itu, di dalam bus yang berjalan, siapapun dilarang berdiri, apa lagi berjalan dari posisi yang satu ke posisi lain. Jika tertangkap polisi, maka kena denda seribu Yuan (sekitar Rp 1,9 juta). Bukti pelanggarannya apa? Setiap bus dilengkapi dengan CCTV bermemori yang bisa di-rewind dan play, itu semua sebagai bukti pelanggaran.

 

O, iya! Satu hal di bawah ini yang mengagetkanku! Ketika gelap malam tiba dan saya masih di bus dalam perjalanan antara Hong Kong dan Shenzen, saya melihat hal yang tidak biasa di dashboard bus tersebut, yaitu sepertinya paten saya yang dimodifikasi. Paten saya ID 0 001 402, granted 10 Mei 1997 terpasang pada permukaan-dalam kaca depan (windshield) mobil sehingga bersifat subyektif terhadap posisi pengemudinya, namun di bus Hong Kong tahun 2016 terpampang secara elektronik pada layar monitor di dashboard. Sebenarnya, pengembangan paten tersebut pernah penulis sampaikan dalam seminar teknologi dan dimuat dalam Proceeding of Annual Meeting on Testing and Quality tahun 2009. Sepulangnya ke Indonesia, saya mencari tahu tentang instansi mana yang berwenang menangani bus di Hong Kong, kemudian melakukan investigasi tentang manfaat dari perangkat tersebut, yang ternyata petugas tersebut masih salah menjawab dan saya nyatakan tidak puas dengan jawabannya serta membalas akan menanyakan kembali kepada personel yang sesuai. (Sugiono)

Sumber: blog intra.lipi.go.id

Diposting oleh hard Pada 28-November-2016 15:50:05

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id