Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Upaya Membantu Keamanan dan Kenyamanan Berkendara dengan Optik

Saat para pengemudi kendaraan beroda empat atau lebih sedang menjalankan kendaraannya di jalan tol, apa yang terlintas dalam benak mereka dalam hal keamanan dan kenyamanannya berkendara? Sebagai salah seorang di antara mereka yang sering memanfaatkan jalan tol untuk berkendara, saya berkeinginan untuk memacu kendaraan saya secepat mungkin agar sampai di tempat tujuan. Namun, karena jalan tol ini bukan jalan nenek-moyangku atau jalan pribadi punya sendiri, saya, juga para pengemudi lain, harus mematuhi peraturan lalu lintas yang ada di jalan tol itu sendiri, khususnya batas kecepatan maksimum dan mininum.Di samping batas kecepatan, ternyata ada peraturan lalu lintas lainnya yang juga harus dipatuhi pengemudi di jalan tol yang tidak perlu diterapkan di jalan biasa, yaitu menjaga jarak aman antara kendaraan yang dibuntuti dan kendaraan yang membuntutinya. Peraturan yang ditetapkan adalah ketika kendaraan melaju pada kecepatan 100 km/jam, maka ia harus menjaga dengan kendaraan yang dibuntutinya pada jarak minimum 100 meter, dan berikutunya berturut-turut, 80 km/jam, 70 km/jam dan 60 km/jam pada jarak 80 meter, 70 meter, dan 60 meter. Itu merupakan ketentuan pada jalan tol di Indonesia yang ditetapkan oleh PT Jasa Marga (Persero).Tulisan ini tidak membahas dari mana jarak aman tersebut diperoleh, melainkan bagaimana membantu para pengemudi untuk mematuhinya.Penulis mengingat kembali memori lama ketika menonton film di "bioskop" LFM (Liga Film Mahasiswa) ITB saat masih matrikulasi pada tahun 1975. Pada tayangan tersebut digambarkanlah coretan-coretan yang terdiri dari berbagai garis, yang di antaranya adalah garis lurus antara mata dengan garis potong antara tembok dan lantai. Dengan mengetahui ketinggian mata dari lantai (h) dan sudut pandangan mata dengan garis horisontal (a), maka jarak antara dirinya dan tembok di depannya (d) adalah d = h tan a.Kemudian, ketika penulis berkunjung ke sebuah pameran teknologi (kebetulan penulis juga bertugas sebagai penjaga pameran sebuah stand) di Jakarta Design Center pada sekitar tahun 1988, penulis mendapat leaflet dari stand pameran PT Jasa Marga (Persero) sebagai pengelola tol yang berisi tentang ketentuan tersebut di atas. Ketika penulis bertanya tentang bagaimana caranya agar pengemudi dapat mematuhi aturan keselamatan tersebut, maka di jawab dengan disediakannya panduan jarak pada saat memasuki jalan tol pertama kalinya, misalnya setelah masuk tol di Ciawi dan di Bogor yang menuju Jakarta. Namun, seberapa besar pengemudi mendapatkan ingatan (memory) tentang jarak pada panduan jarak tersebut dan seberapa banyak pengemudi peduli tentang hal tersebut? Apalagi, memory tersebut digunakan saat yang tepat.Karena penglihatan adalah sebagai salah satu bagian dari ilmu optik dan penulis sebagai peneliti di bidang optik, penulis tertantang dan berkutat mencari jawaban bagaimana mematuhi aturan tersebut, di samping membantu para pengemudi di jalan tol ini, dalam menjaga jarak aman tersebut. Ilham datang dari Tuhan Yang Maha Pandai. Ingatan kembali ke tahun 1987 ketika penulis studi di Canada, tepatnya di kota Victoria propinsi British Columbia, tepatnya di perpusatakaan kota tersebut, yang pada masa itu, tentu saja berupa bacaan hardcopy karena komputer yang tersedia baru sebatas WordStar.Penulis mengamati berbagai literatur di bidang optik, dan menemukan apa yang disebut HUD (Head-Up Display) yang terdapat pada pesawat tempur bikinan Amerika Serikat. Rupanya, HUD ini untuk menggantikan fisir pejera yang terdapat di senapan tangan (hand gun) untuk membantu mengarahkan pelurunya pada sasaran yang dituju. HUD pada pesawat tempur F-16 ini memproyeksikan citra yang berupa bantuan pembidikan (aiming aid) pada windshield di kokpit pesawat itu yang sudah diselaraskan dengan arah senjata yang sudah melewati proses zeroing. Jika gambar tersebut tetap (fix) sebagaimana reticle atau graticule pada teropong bidik, maka tidak akan berguna karena posisi kepala sang pilot, yang juga pembidiknya, tidak statis melainkan dinamis, kepala bisa mundur, maju, kiri kanan, miring, dan lain-lain. Oleh karenanya, dengan bantuan kendali komputer, paparan gambar bantuan pembidikan ini dapat diubah yang disesuaikan dengan posisi kepala pilotnya, sementara posisi kepala pilot dikenali dengan sensor 3 dimensi yang dipasang pada helmetnya. Dengan HUD yang seperti ini, pembidikan dengan senjata pada F-16 ini tidak perlu mengatur posisi kepala melainkan dalam posisi kepala yang bagaimanapun, paparan gambar bantuan pembidikan yang terdapat di windshield kokpitnya selaras dengan arah senjata yang telah tersedia. Dan tentu saja, penyesuaian ini juga termasuk memperhitungkan kecepatan pesawat, kecepatan dan arah angin, besar dan arah gravitasi sesuai dengan posisi pesawat pada saat itu.Kembali ke kendaraan darat. Jika untuk memandu sang pengemudi mobil harus menggunakan HUD sebagaimana yang terdapat pada F-16, maka alangkah tidak efisiennya, alias terlalu mahal. Oleh sebab itu, harus ada jalan keluar, misalnya disederhanakan.Dengan berbekal ilmu geometri yang diperoleh saat masih duduk di bangku SMA dan sarana untuk mempercepat perhitungan dengan komputer pribadi, yang pada saat itu masih zamannya PC-XT dan bahasa BASIC yang dipelajari saat kuliah di FISIKA ITB dengan dosen Prof. Dr. Srijono, maka didapatlah ukuran-ukuran yang dimaksud. Pada awalnya jarak antara mobil yang dilengkapi sarana ukur dan kendaraan di depannya ditandakan pada windshield depan mobil minibus Suzuki Carry dengan cellotape dan kertas sehingga tampak “kotor” kaca-depan atau windshiled mobil penulis. Tidak eloklah!Kebetulan, Pak Gatot Cahyono SH, (pegawai Puslit KIM-LIPI yang pada saat tulisan ini dibuat, beliau sudah pensiun) yang waktu itu baru selesai pelatihan penulisan paten pada tahun 1988, sekitar 24 tahun yang lalu, melihat mobil penulis yang "berantakan" penuh tempelan dan berkomentar kira-kira demikian. "Pak Ugi", panggilan akrab namaku. "Apaan tuh yang ditempel di kaca-depan mobil?" Saya jawab bahwa itu adalah percobaan pribadi bagaimana mengukur jarak antara kendaraan saya dan kendaraan di depan saya agar aman ketika mengikuti kendaraan di depan saat di jalan tol, karena ada ketentuan bahwa pengemudi mestinya menjaga jarak aman tersebut. Dia bilang, "Wah, itu hal baru, Pak! Kenapa nggak dipatenkan saja? Nih, saya berikan dokumen saya yang diperoleh saat kursus paten", seraya meminjamkan dokumen tersebut, dan yang penulis ingat adalah contoh paten dengan judul "Fish breeding apparatus".

Dengan berbekal naskah paten dan ketentuan yang terdapat dalam dokumen hasil kursus tersebut, penulis membuat naskah patennya sendiri sampai selesai, tentu saja sambil mengembangkan berbagai hal dari invensi tersebut. Dengan bantuan konsultan paten dari Biro Oktrooi Rooseno, akhirnya naskah paten tersebut didaftarkan pada tanggal 26 Agustus 1991 dengan nomor pendaftaran P-000 133. Dengan berlalunya waktu, dari hari ke hari, dari pemeriksaan ke pemeriksaan, dari perbaikan ke perbaikan, akhirnya hak paten tersebut diberikan (granted) pada tanggal 10 Maret 1997 dengan nomor paten ID 0 001 402 dengan judul yang terakhir adalah "Cara untuk memandu pengemudi kendaraan beroda empat atau lebih dalam mengemudikan kendaraan dengan menggunakan kaca film". Itulah paten pertama dari LIPI yang berbasiskan UU Paten terbaru pada waktu itu, yaitu UU Paten yang diberlakukan sejak 1 Agustus 1991.Pada saat paten tersebut keluar, Kepala Pusat tempat saya bekerja bukan lagi orang yang dulu saat pendaftaran, dan oleh karenanya saya sampaikan kepada orang tersebut, yaitu Prof. Dr. Ir. H. Syamsul Farid Ruskanda, M.Sc., (pada saat tulisan ini dibuat, beliau telah meninggal dunia 2011), bahwa paten yang dulu diperjuangkan telah granted. Orang kedua yang saya menyampaikan terima kasih adalah Pak Gatot Tjahjono, SH yang mendorong saya untuk menulis naskah paten tersebut dan mematenkannya.Karena pada waktu itu, kasus paten ini relatif baru di LIPI, maka belum ada aturannya dan mencar-cari yang pantas, di samping substansinya sendiri yang berkaitan dengan industri otomotif atau variasi, yang saya nggak tahu, mengapa "terbengkelai" untuk dijual. Saking gemesnya, penulis sebagai inventor tidak tahan terhadap hal ini karena tidak dipasarkan secara profesional, akhirnya penulis berinisiatif sebagai sponsor utama untuk kegiatan pemasaran, produksi dan penjualan dan menyuntikkan dana hasil penjualan mobil pribadinya, Kijang Super keluaran tahun 1992, kalau nggak salah, di samping bekerjasama dengan PT Yumitama Transindo, sebuah perusahaan kecil di bidang transportasi, dan Koperasi LIPI Jakarta yang berupa tempat dan ruang instalasi.Pada waktu itu memang zaman sedang sulit, yaitu tahun 1999, di mana reformasi baru menggeliat setelah tumbangnya rezim Order Baru. Untuk makan saja sulit, apa lagi untuk membeli asesoris kendaraan yang dianggap tidak terlalu vital. Oleh sebab itu, walaupun dibantu dengan pasang iklan di radio Elshinta dengan beberapa kali mengudara, dimuat di Harian Umum Republika, dimuat di majalah Viola, tetap saja penjualan tidak naik-naik, sementara karyawan unit instalasi produk ini harus dibayar. Selama empat bulan ditungguin, tidak ada pelanggan sama sekali. Jumlah pelanggan yang dipasangi GAiD (sebagai bunyi dari GUIDE, pemandu) ini tidak lebih dari 15 (lima belas), dan akhirnya tutup.Sembilan tahun waktu berlalu sampai tahun 2008 di mana internet sudah meraja lela dan kembali lagi ada yang “membangunkan” soal paten ini di LIPI, dan dicoba untuk ditangani sendiri oleh penulis, yang berhasil menginstalasi sekitar 25 unit di berbagai kota terutama Jakarta, kemudian Surabaya, Pontianak, Bekasi, dan Tangerang.Atas sponsor teman kami Budi Sulistyo (PT Pembangunan Jaya - PL 75), yang mempunyai habit lari pagi memutari stadion utama Sanayan setiap Sabtu, saya diundang untuk bergabung dengan teman-teman ITB 75, dan ternyata di sana ketemu Wied, Jodie, Yayi, Nurul, Isnu, Ariz, Prawoto, Nurul, Sapto, Ariz Zahir, dan Bisul, (maaf yang lain lupa). Dengan GAiD yang dipasang di minibus Daihatsu Zebra Espass warna merah, saya mendatangi stadion utama untuk lari keliling di stadion utama Senayan pertama kali dalam hidup saya, dan tentu saja sambil menyodorkan sarapan pagi arem-arem sponsor istriku. Banyak teman yang tertarik dengan GAiD ini, namun hanya "berjodoh" dengan Rusnawir (PL 75) dari Pontianak yang memasang GAiD di Nissan Grand Livina otomatisnya dan Edi Kunsudianto (FI 75). Kawan-kawan yang lain, misalnya Nyoman S. dari Bandung mungkin belum "berjodoh".Sementara "penjualan" melalui TV-One dan RCTI serta media lain seperti Koran Tempo, Intisari, Gatra, Reader`s Digest Indonesia, Intra LIPI, dan lain-lain (biasanya saat saya presentasi yang lain, saya “menyelipkan” produk ini) membuahkan beberapa order, namun bukan order yang banyak.Penelitian ini tidak berhenti sampai di sini. Tahun 2009, saya mengembangkan GAiD ini dengan memanfaatkan teknologi mutakhir yaitu pemandu yang ditampilkan di layar televisi LCD, di mana sarana itu bisa juga menangkap siaran televisi lokal, yang bisa digunakan saat terjebak macet, misalnya. Ada kawan saya, Rita Marina, sebenarnya sudah "pesan" jika yang terbaru sudah keluar, namun sampai saat ini masih dikembangkan dan belum tuntas.Di samping untuk mengukur jarak, GAiD ini juga bisa memandu untuk (1) memilih jejak lintasan ban yang akan dilalui sehingga bisa memandu untuk menghindari lubang atau batu atau jenis halangan lain yang tergeletak di permukaan jalan, (2) memilih posisi kendaraan agar spion-nya (bagian terluar kendaraan) terhindar dari menyerempet kendaraan lain atau benda lain saat berdesak-desakan dengan kendaraan lain atau melalui lorong yang sempit, dan (3) memilih posisi kendaraan dalam melewati jalan untuk menghidari serempetan bodi kendaraan dengan benda lain di tepi jalan.Telah dikembangkan pula, dengan memanfaatkan sarana yang ada, untuk membantu melihat situasi jalan di belakang kendaraan, baik saat diperlukan untuk mundur maupun saat maju, namun belum tuntas. Demikian pula sarana untuk membantu pengemudi yang sedang mengemudikan kendaraan sendirian agar seakan-akan punya co-driver untuk membantu melihat situasi jalan saat menikung, membuntuti kendaraan besar di jalan yang sempit dan menanjak, ketika diperlukan pandangan dari sisi co-driver. Mungkin akan sangat berguna di jalan berliku, seperti misalnya di Sumatera Barat yang terkenal, yang penulis sendiri belum pernah ke sana.Mudah-mudahan dengan pengembangan ini, tingkat keselamatan dan kenyamanan berkendaraan menjadi lebih tinggi, tentu saja jika menggunakan dan memanfaatkan hasil pengembangan GAiD ini. (Sugiono)

Diposting oleh hard Pada 30-Desember-2015 15:12:50

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id