Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Selamat Jalan Mbah Maridjan

Di medio awal Juni tahun 2006, saat gunung Merapi terbatuk-batuk mau meletus, Mbah Maridjan menjadi bintang dalam pemberitaan media massa saat itu, karena sikap kukuh dan ngototnya untuk tetap tinggal di rumah, padahal pemerintah telah mengumumkan status awas untuk Merapi. Syukur, batuk Merapi tak keras, sehingga Mbah Maridjan banyak dielu-elukan masyarakat, namanya meroket dan terkenal di seantero nusantara, bahkan telah menjadi bintang iklan minuman suplemen energi pula.

Empat setengah tahun kemudian, di medio akhir Oktober 2010 ini, ketika Merapi pun bergeliat menandakan akan mengeluarkan isi perutnya, Mbah Maridjan pun tetap dengan sikapnya 4 tahun yang lalu: menolak mengungsi ke daerah aman, seperti yang dilakukan oleh warga di desa-desa sekitar Merapi lainnya. Mbah Maridjan ditemani beberapa tetangganya, petugas satuan koordinator lapangan (satkorlap), juga wartawan, yang memilih tetap tinggal di rumah mbah Maridjan atau di masjid samping rumahnya, yang menurut informasi berjarak hanya 1,5 km dari puncak Merapi. Kabar terakhir, mbah Maridjan dikabarkan tewas dalam musibah letusan Merapi tersebut, dikenali dari baju batik dan sarung yang biasa dipakainya, dan di dalam rumahnya hanya beliau yang tinggal.

Apakah sikap almarhum Mbah Maridjan yang mengikuti keyakinan dirinya itu, berdasarkan klenik, atau wangsit, atau bahkan sihir? Tidak! Secara ilmiah dapat dipahami tentang proses pembentukan pengetahuan, yang menjadi patokan seseorang dalam memutuskan tindakan-tindakan yang akan diambilnya, termasuk sikap Mbah Maridjan yang tidak mau turun gunung, walaupun sudah ada pengumuman resmi dari pemerintah tentang peningkatan status bahaya Merapi.

Teori Ilmiah Pengetahuan

Sebuah pengetahuan terbentuk melalui proses. Berawal dari alam yang banyak menyediakan fenomena, bisa menjadi fakta bagi mereka yang dapat memungutnya. Fakta-fakta dikumpulkan menjadi data. Data yang diolah dan dianalisis menjadi informasi, dan informasi diserap oleh otak manusia menjadi pengetahuan (knowledge). Semakin banyak pengetahuan dimiliki oleh seseorang, maka yang bersangkutan akan menjadi orang yang bijaksana (wisdom).

Jenis pengetahuan pada dasarnya bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, pengetahuan yang tersembunyi dalam otak manusia yang sulit untuk ditransfer ke orang lain, yang disebut sebagai tacit knowledge. Kedua, pengetahuan yang berwujud secara ekplisit (nyata) dalam rumus, sketsa, gambar, tulisan, video, atau media lainnya yang relatif lebih mudah untuk dipindahtangankan ke orang lain, disebut explicit knowledge.

Menurut Prof Nonaka, salah satu dari lima ahli knowledge management dunia, sebuah pengetahuan tasit (tacit knowledge) walaupun sulit ditransfer, sebenarnya tetap dapat ditransfer ke orang lain dalam bentuk tasit juga, lewat sebuah proses sosialisasi (socialisation). Misalnya, pengetahuan tasit mbah Maridjan tentang status Merapi dapat ditularkan kepada seseorang atau beberapa orang yang sehari-hari bersamanya. Pertanyaannya adakah orang yang senantiasa mendampingi mbah Maridjan di rumah dan desa tempat tinggalnya, termasuk anaknya yang sudah menjadi abdi dalem di Kerajaan Yogyakarta sebagai juru kunci Merapi seperti ayahandanya itu?

Mbah Maridjan, menurut teori Prof Nonaka, menerima pengetahuan tersembunyi tentang kapan Merapi marah, apa tanda-tandanya, bagaimana menjinakkan kemarahannya, dan sebagainya datang dari sang bapak, Mbah Hargo, melalui interaksinya semenjak Mbah Maridjan lahir hingga Mbah Hargo meninggal. Apalagi bila Mbah Maridjan sering bersama-sama dengan Mbah Hargo dalam laku lampahnya berinteraksi dengan Merapi. Penyerapan pengetahuan tersembunyi melalui interaksi kehidupan sehari-hari memang bisa terjadi, tetapi perlu waktu yang relatif panjang.Proses Eksternalisasi Pengetahuan
Sebenarnya pengetahuan tasit dapat di-eksplisit-kan melalui proses ekternalisasi (externalisation). Contohnya, para peneliti gunung berapi mengambil data dan fakta di lapangan, kemudian menuliskannya dalam makalah untuk diketahui oleh lebih banyak orang, tak harus bertemu langsung. Pengetahuan Mbah Maridjan tentang Merapi pun, sebenarnya bisa diekplisitkan bila almarhum atau

peneliti tentang Mbah Maridjan mau menuliskan pengetahuan Mbah Maridjan tentang Merapi. Tapi, kemungkinan ekternalisasi pengetahuannya Mbah Maridjan adalah sangat kecil, karena orang Indonesia masih berbudaya lisan, jadi masih cukup berat untuk menulis, termasuk almarhum. Selain masih ada faktor pemilihan siapa kader penerus sebuah pengetahuan tersembunyi. Para empu, paranormal, ahli kebatinan, dan pemilik ilmu-ilmu tertentu biasanya membatasi kepada siapa saja pengetahuannya akan ditularkan.

Bila tulisan yang sudah diekplisitkan tersebut, misalnya tentang pengetahuan tentang gunung berapi digabungkan dengan tulisan/pengetahuan lain, misalnya apa ciri-ciri gunung yang akan meletus, bagaimana cara menyelamatkan masyarakat, dan sebagainya, akan semakin memperkaya isi pengetahuan tentang gunung berapi. Proses ini disebut combination. Bila seseorang menerima pengetahuan secara eksplisit, kemudian mempraktikkan secara langsung agar menjadi pengetahuan bagi dirinya, maka yang berdsangkutan sedang menjalani proses internalisation pengetahuan.

Keempat proses penciptaan pengetahuan tersebut disingkat sebagai proses SECI (socialisation, externalisation, combination & internalisation) . Melalui proses SECI, pengetahuan dapat ditransfer kepada orang lain lebih cepat dan kepada lebih banyak orang, sehingga pengetahuan bisa terus berkembang seperti spiral, semakin lama semakin banyak dan meluas.

Negara-negara maju dapat mempercepat kemajuan ipteknya untuk hidup yang lebih nyaman, mudah dan nikmat, karena proses SECI dapat berjalan dengan baik. Sedangkan di negara-negara berkembang atau negara terbelakang, pengetahuan tasit cenderung dilindungi oleh pemiliknya, justru ada kecenderungan jangan sampai pengetahuan yang dimiliki menyebar ke orang lain. Bisa dimaklumi bila pengetahuan di negara dunia ketiga, hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja, baik kelompok yang berpendidikan, maupun kelompok yang belajar langsung dari alam seperti mbah Maridjan.

Selamat Jalan Mbah Maridjan

Sikap Mbah Maridjan tidak mau turun gunung walaupun wedus gembeltelah dimuntahkan Merapi, adalah berdasarkan pengetahuan tasitnya tentang Merapi yang diterimanya dari almarhum orang tuanya, Mbah Hargo, serta dari interaksinya selama ini dengan Merapi. Secara ilmiah sikap Mbah Maridjan bisa diterima. Sikap Mbah Maridjan jelas bukan berdasarkan wangsit, klenik, ataupun ilmu sihir. Keukeuh-nya si Mbah untuk tetap bertahan di dekat puncak Merapi harus dihargai, walaupun ternyata keajaiban tidak terjulang lagi seperti di tahun 2006, saat Merapi hanya berdehem, bukan batuk.

Hanya saja, bila saat mbah Maridjan meninggalkan kita semua dalam tugasnya menjadi juru kunci gunung Merapi, belum sempat menularkan pengetahuan tasit Merapi-nya ke generasi penerus-nya, maka terputus-lah proses pengetahuan tasit beliau. Mari kita doakan semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima semua amal baik mbah Maridjan, dan menempatkannya di tempat yang lebih baik di Surga-Nya. Amiiin.Pengetahuan tasit mbah Maridjan yang telah diperolehnya dari orang tua maupun dari interaksi selama hidupnya dengan alam Merapi, tetap akan lebih baik dan lebih optimal sebagai salah satu referensi untuk pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang, bila dikombinasikan dengan pengetahuan eksplisit yang didapatkan dengan teknologi semacam sismograf atau alat-alat lainnya yang dipunyai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, dan Kementerian ESDM.

Memang terasa heroik mempertahankan pendapat dan keyakinan, tetapi akan lebih heroik lagi bila pendapat dan keyakinan didasari dengan data dan informasi ilmiah, untuk dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak manusia, dengan berusaha semaksimal mungkin, dan menyerahkan takdir kepada Yang Maha Kuasa. Walaupun mbah Maridjan telah meninggalkan kita semua, semoga semangat pengabdian pada tugasnya tetap menginspirasi kita semua; dan semoga muncul mbah Maridjan-mbah Maridjan generasi berikutnya, yang mempunyai pengetahuan tasit maupun eksplisit yang mumpuni serta bersikap ilmiah, termasuk dalam menerima pengumuman pemerintah. Selamat jalan Mbah Maridjan; pengabdian Mbah akan tetap menjadi inspirasi kami!. (Agus Fanar Syukri)

Sumber: blog intra.lipi.go.id

Diposting oleh hard Pada 10-Oktober-2010 15:12:33

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id