Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Urgensi Pengujian Konsumsi Energi Refrigerator (Lemari Pendingin) dan Permasalahannya

Dalam rangka optimalisasi penggunaan energi, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan energi nasional yang meliputi kebijakan penyediaan energi yang optimal dan pelaksanaan konservasi serta diversifikasi dalam pemanfaatan energi, penetapan harga energi ke arah harga keekonomian, dan pelestarian lingkungan. Kebijakan konservasi energi dimaksudkan untuk meningkatkan penggunaan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi kuantitas energi yang memang benar-benar diperlukan. Upaya konservasi energi dapat diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan akhir, dengan menggunakan teknologi yang efisien dan membudayakan pola hidup hemat energi.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, definisi konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi pemanfaatannya. Efisiensi merupakan salah satu langkah dalam pelaksanaan konservasi energi. Efisiensi energi adalah istilah umum yang mengacu pada penggunaan energi lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah layanan atau output berguna yang sama.

Penerapan teknologi efisiensi energi di Indonesia hingga saat ini masih belum seperti yang diharapkan. Meskipun beberapa jenis usaha komersial dan industri telah melakukan usaha-usaha penghematan energi dan revitalisasi, secara nasional hasilnya masih belum cukup untuk meredam laju konsumsi energi yang cukup tinggi. Konsumsi energi final Indonesia pada periode tahun 2000 hingga 2010 telah melonjak hampir dua kalinya, dari 777,9 juta SBM (508,9 juta SBM, tanpa biomasa) menjadi 1182,1 juta SBM (902,1 juta SBM, tanpa Biomasa). Penghematan energi di sisi kebutuhan (hilir) akan menjamin ketersediaan suplai energi sekaligus menghindarkan Indonesia menjadi negara importir energi di masa mendatang atau meningkatkan ketahanan energi nasional [1].

Khusus untuk energi kelistrikan, Neraca Listrik Nasional tahun 2013 (statistik PLN) menunjukkan bahwa penggunaan energi listrik untuk sektor rumah tangga menempati posisi pertama sebesar 41,2 persen, kemudian diikuti sektor industri 34,3 persen, sektor bisnis 18,4 persen dan sisanya 6,1 persen dari sektor publik [2]. Sementara dari sisi pelanggan listrik, rasio elektrifikasi Indonesia baru mencapai sekitar 72,95 persen pada tahun 2011 [3].

Dominannya pemakaian energi listrik untuk sektor rumah tangga tidak terlepas dari semakin meningkatnya jumlah rumah tangga di Indonesia dari tahun ke tahun. Selain itu, meningkatnya segmen rumah tangga kelas ekonomi menengah menyebabkan penggunaan alat pemanfaat listrik rumah tangga juga meningkat cukup besar, diantaranya Air Conditioner, lampu ballast, pompa air, lemari pendingin, kipas angin, televisi, penanak nasi, setrika dan mesin cuci. Kondisi ini semakin memperkuat akan perlunya program konservasi energi terutama dalam hal energi efisiensi. Salah satu upaya untuk mendukung program konservasi energi ini adalah dengan diterapkannya SNI wajib untuk labelisasi energi pada produk-produk piranti listrik rumah tangga. Namun, sampai saat ini, di Indonesia baru satu produk yang telah diterapkan labelisasi energi, yakni lampu CFL (2011).

Diantara sekian banyak piranti listrik rumah tangga yang ada, lemari pendingin (refrigerator) merupakan salah satu piranti yang perlu mendapat prioritas perhatian karena termasuk penyumbang pemakai energi listrik yang paling besar terutama untuk golongan tarif R1-450VA, R1-900VA dan R1-1300VA [1]. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah RI melalui Proyek Barrier Removal to the Cost Effective Development and Implementation of Energy Standards and Labeling (BRESL) sebenarnya sudah mentargetkan labelisasi untuk produk refrigerator ini pada tahun 2013 [4]. Namun, karena berbagai kendala, sampai saat ini target tersebut belum bisa terealisasikan.

Untuk mendukung penerapan program labelisasi energi tersebut, diperlukan penyiapan infrastruktur terkait, diantaranya kesiapan lab-lab uji dan adanya standar serta metode uji konsumsi energi guna menjamin bahwa pengujian yang dilakukan menghasilkan data yang valid dan tertelusur. Khusus refrigerator, standar internasional yang diacu dalam proses pengujian konsumsi energi adalah IEC 62552:2015, Household Refrigerating appliances – Characteristics and Test methods. Berdasarkan standar uji tersebut, pengujian konsumsi energi refrigerator harus dilakukan dalam kondisi ruangan dengan temperatur ambient 32oC + 0,5oC (untuk daerah tropis). Selain itu, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi berkaitan dengan kestabilan temperatur ambient yaitu gradien temperatur secara vertikal tidak melebihi 1 K/m dan kecepatan angin di sekitar benda uji harus di bawah 0,25 m/s. Oleh karena itu, proses pengujian biasanya dilakukan di dalam chamber (ruangan uji) yang terkontrol kondisi lingkungannya.

Sampai saat ini, di Indonesia belum ada satupun laboratorium yang dianggap memiliki kemampuan untuk melakukan pengujian konsumsi energi refrigerator dengan mengacu pada standar IEC 62552:2015 tersebut di atas. Hal ini terutama berkaitan dengan persyaratan chamber uji yang harus dimiliki, khususnya yang menyangkut persyaratan kecepatan angin di dalam chamber. Walk in chamber yang dimiliki laboratorium P2SMTP-LIPI juga masih belum memenuhi persyaratan dikarenakan kecepatan angin rata-rata yang terukur di dalamnya masih di atas 1 m/s.

Referensi:[1] Perencanaan Efisiensi dan Elastisitas Energi 2012. Balai Besar Teknologi Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.[2] Statistik PLN 2013. PT. PLN Persero.[3] Kajian Indonesia Energy Outlook. Pusdatin Kesdm 2012.[4] Roadmap Laboratorium Pengujian Kelistrikan dan Efisiensi Energi, Forum Komunikasi Laboratorium Pengujian Kelistrikan dan Efisiensi Energi dan BRESL Indonesia, 2013. [5] IEC 62552-2015: Household refrigerating appliances - Characteristics and test methods. (Nanang Kusnandar)

Sumber: blog intra.lipi.go.id

Diposting oleh hard Pada 29-Januari-2016 15:18:35

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id