Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Mengenal Termografi

Perkembangan teknologi sistem pencitraan termal inframerah (IR) atau yang sering disebut dengan termografi sudah dimulai sejak awal abad 19, tepatnya ketika William Herschel menemukan sinar inframerah pada tahun 1800. Empat puluh tahun kemudian, John Herschel menghasilkan citra inframerah yang merupakan bentuk termogram pertama sebelum Czerny (1929) memberikan perbaikan dalam proses pembuatan citranya. Dalam perjalanannya, bidang ini mengalami perkembangan pesat terutama dalam dua dekade terakhir seiring dengan kemajuan besar dalam teknologi detektor IR, komponen elektronik dan ilmu komputer [1].

Termografi saat ini telah diterapkan dalam berbagai bidang yang berbeda. Pada inspeksi instalasi listrik, termografi digunakan untuk mendeteksi overheating yang terjadi baik pada bagian koneksi maupun komponen-komponen lainnya sehingga bisa mengantisipasi potensi bahaya yang mungkin ada [2]. Di bidang mekanik, pencitraan termal dari motor, pompa, kipas, bearing, kompresor, elemen pemanas, humidifier dan lain-lain dapat digunakan untuk menganalisa kerusakan dan penurunan efisiensi yang terjadi. Selain itu, termografi juga sudah digunakan secara meluas di bidang biologi dan kedokteran [3], audit energi suatu bangunan [4], alat bantu pengintaian di dunia militer serta alat bantu pendeteksi sumber panas dan api bagi para petugas pemadam kebakaran [1] [5].

Perangkat yang bisa menghasilkan citra termal suatu objek disebut thermal imager atau kamera termal inframerah. Alat ini bekerja dengan cara merekam intensitas radiasi sinar inframerah yang terpancar dari suatu objek, kemudian mengkonversinya kedalam citra yang bisa dilihat secara visual. Berdasarkan prinsip radiasi inframerah ini pula kamera inframerah bisa digunakan untuk mengukur suhu permukaan objek secara nonkontak.

Sebagai alat pengukur temperatur secara nonkontak, kamera inframerah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sensor-sensor temperatur konvensional seperti termometer gelas dan termokopel. Keunggulan tersebut antara lain karena kemampuannya untuk melakukan pengukuran pada objek bergerak, objek yang berada pada posisi yang sulit, ataupun objek yang mengandung resiko berbahaya apabila pengukuran secara kontak dilakukan, misalnya pada objek yang bertegangan tinggi. Dibandingkan dengan alat pengukur temperatur nonkontak lainnya seperti termometer inframerah atau pyrometer yang hanya melakukan pengukuran pada satu titik, kamera inframerah pun memiliki keunggulan karena kemampuannya merekam objek dalam bentuk citra, sehingga semua area pada objek yang dapat direkam kamera bisa diukur temperaturnya pada saat bersamaan. Namun di sisi lain, karena keterbatasan resolusi, seringkali kualitas citra yang direkam kamera inframerah tersebut menjadi tidak tajam (blur).

Blur yang dihasilkan dari proses perekaman objek bergerak/dinamik merupakan salah satu bentuk artifak yang sering muncul pada suatu citra dan dikenal dengan istilah motion artifact. Artifak seringkali dihasilkan oleh kamera yang memiliki resolusi spasial yang rendah seperti umumnya spesifikasi kamera inframerah [7]. Motion artifact ini juga bisa terjadi pada kamera optik yang menyebabkan berkurangnya detil objek yang ditampilkan dalam citra tersebut. Pada kamera termal inframerah, blur tidak hanya akan mengurangi detil dari objek, tetapi juga akan berkorelasi dengan ketidakakuratan hasil pengukuran temperatur yang dilakukan.

Gambar di samping adalah contoh dari kamera inframerah yang dimiliki oleh laboratorium Bidang Teknologi Pengujian P2SMTP-LIPI. Kamera ini memiliki detektor jenis FPA (Focus Plane Array) dari bahan vanadium oxide (VOX) uncooled microbolometer, dengan refresh rate 7,5 Hz dan bekerja pada spectral band 8 – 14 um. Selain itu, kamera ini mempunyai resolusi digital display 320 x 240 pixel dan rentang pengukuran -20oC s.d. 600oC dengan akurasi + 2oC / + 2 persen.

Referensi[1] Vollmer, M. and Mollmann, K., Infrared Thermal Imaging: Fundamentals, Research and Applications., Germany: WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, 2010.[2] Chou, Y. and Yao, L., "Automatic diagnosis system of electrical equipment using infrared thermography," in International Conference of Soft Computing Pattern Recognition, 2009.[3] Ring, E. & Ammer, K., "Infrared thermal imaging in medicine," Physiological Measurement, vol. 33, pp. 33 - 36, 2012.[4] Balaras, C.A & Argiriou, A.A., “Infrared thermography for building diagnostics.,” Energy and Buildings, vol. 34, pp. 171 - 183, 2002.[5] Williams, T.L., Thermal Imaging Cameras, Characteristcs and Performance.,

Boca Raton: CRC Press, 2009.[6] “Infrared Thermography Testing – Going Beyond the Electrical Connection,” [Online]. http://www.hsb.com/TheLocomotive/InfraredThermographyTesting GoingBeyondTheElectricalConnection.aspx. [Diakses 5 February 2013].[7] Malczewski, K. & Stasinski, R., “Super-Resolution Thermal Image Reconstruction.,” in 17th International Conference on Systems, Signals and Image Processing., 2010. (Nanang Kusnandar)

Sumber: blog intra.lipi.go.id

Diposting oleh hard Pada 08-Mei-2016 15:20:34

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id