Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Infrastruktur dan Permasalahan Kalibrasi Laboratorium EMC (electromagnetic Compatibility) di indonesia

Tahun 2015 merupakan tahun diberlakukannya pasar bebas ASEAN atau yang biasa kita sebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA 2015). Indonesia sebagai anggota MEA tentu saja harus mempersiapkan produk-produk dalam negeri yang bermutu baik agar mampu bersaing dengan produk-produk dari luar. Sementara, produk-produk yang dihasilkan industri baik industri dalam negeri maupun industri luar negeri tidak dapat langsung dipasarkan begitu saja karena produk-produk tersebut harus diuji kesesuaiannya dengan standar yang berlaku. Parameter tersebut diantaranya adalah kualitas, keamanan dan keselamatan. Produk-produk tersebut akan dapat dipasarkan apabila memenuhi peraturan dan persyaratan standard yang berlaku tersebut.

Pada produk berbasis kelistrikan dan elektronika, pengujian Electromagnetic Compatibility (EMC) harus dilakukan karena pada dasarnya semua produk yang berbasis kelistrikan dan elektronika dapat menimbulkan gangguan elektromagnetik ke lingkungan sekitarnya, gangguan tersebut yang diakibatkan oleh adanya osilasi elektron yang ada dalam komponen elektronik peralatan tersebut. EMC pada prinsipnya memastikan bahwa suatu produk dapat beroperasi secara normal dalam lingkungan dengan gangguan medan elektromagnetik dan juga produk tersebut tidak menimbulkan gangguan elektromagnetik ke lingkungan sekitar. Dengan beberapa uraian singkat diatas, maka pengujian EMC mutlak dilakukan untuk semua peralatan kelistrikan dan elektronika sehingga pembangunan dan pengembangan Laboratorium EMC di Indonesia sangatlah dibutuhkan. Laboratorium EMC akan memberikan manfaat dan dampak ekonomis maupun kemajuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara. Namun, saat ini laboratorium EMC yang ada di Indonesia masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pengujian yang dipersyaratkan oleh standard.

Beberapa laboratorium EMC di Indonesia saat ini adalah dimiliki oleh pemerintah dan sebagian lagi dimiliki oleh swasta. Saat ini pengembangan laboratorium tersebut menemui beberapa kendala terkait kalibrasi peralatan karena infrastruktur kalibrasi peralatan EMC yang ada di Indonesia masih belum memadai. Kalibrasi peralatan menjadi sangat krusial karena akan memberikan hasil pengukuran yang benar dan terjamin kebenarannya. Untuk mendukung program-program tersebut maka perlu dilakukannya peningkatan kemampuan SDM laboratorium EMC, peningkatan SDM tersebut dapat dilakukan dengan cara mengikuti training baik dalam hal yang berhubungan dengan teknik pengukuran, metrologi, standard ukur, ISO dan lain-lain. Disamping itu program peningkatan pendidikan serta kerjasama internasional juga menjadi salah satu faktor penting dalam hal pengembangan kompetensi personil. Dalam hubungannya dengan pengembangan sistem pengukuran, beberapa kegiatan yang mungkin bisa dilakukan diantaranya adalah perancangan sistem pengukuran yang sesuai dengan kebutuhan pengguna yang dalam hal ini adalah industri yang menggunakan jasa pengujian Laboratorium EMC terutama industri elektronik.

Bedasarkan beberapa uraian diatas maka kedepannya perkembangan metrologi untuk mendukung laboratorium EMC menjadi sangat penting, sehingga pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan nasional tentang pengembangan EMC termasuk pengembangan sistem ketertelusuran pengukuran untuk mendukung EMC. Untuk menjamin ketertelusuran pengukuran, pengelolaan serta kalibrasi peralatan EMC perlu dilakukan sehingga harus diperhatikan juga mengenai jumlah dan rentang ukur peralatan kalibrasi yang mendukung laboratorium EMC dan jenis alat ukurnya seperti apa. Diharapkan dengan adanya beberapa kegiatan tersebut maka semua laboratorium EMC yang ada di Indonesia terjamin bahwa semua alat yang ada di laboratorium tersebut terkalibrasi. Untuk mengetahui seberapa sering penggunaan laboratorium EMC maka perlu dibuatkan peta kebutuhan pengujian EMC secara nasional sehingga kedepannya ada perencanaan pengembangan laboratorium EMC dalam 25 tahun yang akan datang. Disamping itu perlu juga dilakukan kerjasama antara laboratorium dengan regulator serta pelaku usaha dalam pengembangan uji EMC, dengan adanya kerjasama tersebut maka akan dapat menjamin peningkatan mutu produk nasional terutama produk-produk yang berbasis kelistrikan dan elektronika.

Berdasarkan data dari pertemuan masyarakat EMC yang diselenggarakan tahun 2014 oleh Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (P2SMTP) LIPI, total laboratorium EMC yang ada di Indonesia saat ini baik yang dimiliki oleh pemerinta maupun swasta adalah 13 laboratorium. Pemerintah memiliki 5 laboratorium EMC diantaranya P2SMTP LIPI Serpong, B4T Bandung, Baristand Surabaya, PTIK BPPT Serpong, DJPT Kominfo Bekasi. Sedangkan swasta meliliki 8 laboratorium diantaranya adalah PT. Sucofindo Bekasi, PT. Dirgantara Indonesia Bandung, PT. Samsung, PT. LG Electrinics Indonesia, PT. Mecoindo Itron, PT. Panasonic, PT. Yamaha Music dan PT. Polytron. Beberapa laboratorium EMC tersebut merupakan laboratorium high technology sehingga membutuhkan sumber daya yang tinggi karena harus mengikuti standard yang selalu bergerak cepat, disamping itu karena produk elektronika yang perkembangannya semakin pesat dan cepat sehingga semakin canggih suatu produk maka akan memiliki potensi radiasi elektromagnetik yang semakin tinggi. Misalnya sebuah ponsel cerdas yang kini sangat bergantung pada jaringan internet tentu radiasinya lebih besar daripada telepon genggam yang nanya bisa dipakai telpon dan sms.

Dalam 20 tahun terakhir, laboratorium yang ada di Indonesia sekarang ini kebanyakan merupakan laboratorium pengujian yang bergerak di bidang agri, kimia, lingkungan, migas dan batubara. Hal tersebut dikarenakan mayoritas produk yang berbasis kelistrikan merupakan produk impor sehingga perkembangan leboratorium kelistrikan (khususnya EMC) di Indonesia kurang cepat karena kebutuhan pengujian EMC di Indonesia lebih banyak terkait dengan R&D. Walaupun pabrik produk listrik dan elektronika telah berproduksi di Indonesia, namun head quarter-nya masih berada di luar negeri sehingga R&D masih dikendalikan oleh kantor pusatnya. Dengan demikian kebutuhan penegujian EMC di kantor pusatnya yang lebih dominan diperlukan. Selain beberapa faktor diatas, beberapa hal yang menyebabkan pertumbuhan laboratorium EMC di Indonesia kurang cepat adalah Standard Nasional Indonesia (SNI) yang terkait dengan EMC masih terbatas mayoritas adopsi penuh ke Standard Internasional (IEC/ISO) serta belum adanya regulasiatau aturan wajib dari kementerian terkait baik dari kementerian perindustrian maupun kementerian kominfo yang khusus meregulasikan tentang pengujian EMC.

Regulasi yang terkait dengan produk kelistrikan dan elektronika yang sudah diwajibakn di indonesia diantaranya adalah :1. Permen ESDM no 11 tahun 2007 tentang SNI wajib produk kipas angin2. Permenperin 84/M-IND/PER/8/2010 tentang SNI wajib3. Permenperin 34/M-IND/PER/7/2013 tentang SNI wajib pendingin ruanganSementara itu total laboratorium kalibrasi di Indonesi yang sudah diakreditasi oleh KAN adalah 176 laboratorium dengan nomer akreditasi terakhir LK 207 IDN. Namun laboratorium kalibrasi yang mampu mengkalibrasi peralatan EMC di Indonesia terbatas, hanya kurang dari 10 laboratorium dan itupun hanya beberapa peralatan EMC saja yang mampu dikalibrasi. Sedangkan total laboratorium pengujian yang sudah diakreditasi oleh KAN adalah 915 laboratorium dengan nomer akreditasi terakhir LP 938 IDN. Namun laboratorium pengujain yang telah diakreditasi tersebut untuk ruang lingkup EMC kurang dari 5 laboratorium penguji dan hanya beberapa parameter EMC tertentu saja.

Selain beberapa kendala yang telah disebutkan diatas, salah satu kendala yang paling besar adalah biaya investasi yang sangat mahal dalam pembangunan Laboratorium EMC, selain untuk biaya pembangunan gedung, pengembangan laboratorium EMC juga meliputi pembelian beberapa peralatan EMC serta pembuatan chamber (anechoic chamber, semi-anechoic chamber dsb), hal ini mengakibatkan balik modalnya tidak bisa dalam waktu singkat karena biaya maintenance atau pemeliharaan untuk peralatan dan kalibrasi yang sangat mahal kecuali jika laboratorium tersebut diorientasikan bukan untuk komersil tetapi untuk sarana penelitian. Dengan demikian apabila laboratorium EMC tidak diperbaharui secara berkala maka akan mengalami ketertinggalan dari negara lain, terlebih produk kelistrikan dan elektronika yang beredar di pasaran semakin canggih. Untuk itu diperlukan ketersediaan kompetensi SDM yang cukup dan memadahi karena standard dari pengujian produk tersebut selalu mengalami perkembangan dan pemutakhiran. (Mohammad Khoirul Anam)

Sumber: blog intra.lipi.go.id

Diposting oleh hard Pada 16-Desember-2016 15:48:59

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id