Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Kisah Sutrisno Salomo Hutagalung Menciptakan Mesin Pengolah Air Gambut

Potensi air gambut di Indonesia terbesar keempat di dunia. Sayang, belum ada teknologi untuk mengolahnya jadi air layak pakai. Untung, kini Sutrisno Salomo Hutagalung berhasil menemukan solusinya.

LOBI gedung Pusat Inovasi (Pusinov) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Bogor, Selasa (25/4) disulap menjadi arena pameran. Seratusan hasil inovasi dipamerkan. Mulai aneka varietas baru tanaman unggul, olahan makanan dari berbagai umbi-umbian, aneka pupuk tanaman organik, sampai perlengkapan mekanis seperti kincir untuk pembangkit listrik tenaga angin.

Di antara sekian banyak hasil inovasi, karya Sutrisno Salomo Hutagalung terlihat paling mencolok. Rombongan Komisi VII DPR yang kemarin siang berkunjung juga betah berlama-lama mengamati mesin karya peneliti di Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI itu.

Mesin karya Sutrisno memang cukup besar. Tingginya sekitar 2 meter dan panjangnya mencapai 3 meter. Selain itu, mesin yang berfungsi membuat air gambut layak minum tersebut dipenuhi panel listrik dengan lampu yang berkedip-kedip. Persis di tengahnya ada peranti komputer untuk mengatur kinerja mesin.

Setelah meladeni anggota dewan yang bertanya ini dan itu, Sutrisno menjelaskan detail mesin yang dia buat mulai 2012 tersebut. Pria kelahiran Cimahi, 8 Oktober 1960, itu sudah tidak kaget jika karyanya menyedot perhatian. ”Tercatat, dalam empat kali pameran terakhir, inovasi saya ini menjadi primadona,” ujar Sutrisno, lantas tertawa.

Pameran terakhir yang diikuti adalah puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Solo tahun lalu. Dia mengaku sempat kaget setelah mesinnya tiba kembali di kantor LIPI. Sebab, banyak komponen yang copot karena harus melalui perjalanan darat dari Solo ke Serpong, markas Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI.

Suami Lili Rishandiari itu lantas menceritakan awal mula inovasi yang sudah didaftarkan patennya pada 2015 tersebut. Pada 2012 LIPI membuat program riset unggulan dengan fokus kerja di wilayah Riau. Akhirnya tebersit di benaknya mengolah air gambut yang begitu banyak di Riau dan sekitarnya. ”Dari literatur yang saya baca, jumlah air gambut di Indonesia terbesar keempat di dunia,” ungkapnya.

Stok air gambut di Indonesia itu banyak karena luas area gambut di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 17 juta hektare (ha). Negara terluas lahan gambutnya adalah Kanada (170 juta ha), Rusia (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha).

Sayang, banyaknya stok air gambut itu sampai sekarang tidak bisa dikelola dengan baik. Bahkan sebaliknya, air gambut sering menjadi biang penyakit. Misalnya gatal-gatal pada kulit sampai menjadi media pertumbuhan bakteri E. coli. ”Dari fisiknya saja, warnanya hitam pekat dan berbau menyengat,” katanya.

Ayah Ana, Andrian, dan Rian tersebut menjelaskan, ada jenis air gambut yang tidak terlalu hitam pekat. Tetapi, setelah diteliti, ternyata di dalamnya ada penuh bakteri E. coli. Bakteri itu sangat berbahaya jika sampai masuk ke tubuh manusia.

Sebelum membangun mesin yang mampu mengolah air gambut menjadi air layak minum, Sutrisno mencari sampel beberapa jenis air gambut. Dia datang sendiri ke lahan-lahan gambut yang tersebar di Riau.

Tujuannya jelas, mencari air gambut kategori paling pekat dengan bau paling menyengat. Akhirnya, ketemulah sampel itu di kawasan Rimbo Panjang, Riau. Untuk pembanding, Sutrisno juga mengambil sampel air gambut di kawasan Kampar Kiri Hilir dan Tapung Hilir, keduanya di Kabupaten Kampar. ”Waktu itu ada sampel 1 ton yang dikirim sebagai sampel penelitian saja. Ongkos kirimnya sekitar Rp 10 juta,” kenangnya.

Setelah siap dengan sampel air gambut, Sutrisno memulai membuat rancang bangun sistem pemurnian itu. Menurut dia, alat ciptaannya bekerja tanpa menggunakan bahan penjernih kimia sejenis kaporit. Selain itu, keunggulan karyanya tersebut adalah hasil pengolahan air gambut menjadi air layak minum tidak menghasilkan sisa atau ampas. Seluruhnya larut.

Mekanismenya dimulai dengan mengalirkan bahan baku berupa air gambut. Kemudian, setelah masuk pipa, air gambut itu ditembak dengan ozon (O3). Air gambut yang bercampur ozon tersebut masuk ke pipa yang berkelok-kelok. Di dalam pipa itu juga ada alat yang berfungsi seperti pengaduk.

Setelah itu sampailah ke tabung pengolahan pertama. Di tabung tersebut air gambut yang masuk ditembak kembali dengan sinar ultraviolet (UV). ”Ozon dan sinar UV ini bisa mematikan bakteri-bakteri yang ada di dalam air gambut,” ujarnya.

Sutrisno menjelaskan, banyak sekali manfaat pemberian ozon ke air gambut. Selain dapat mematikan mikroorganisme, juga mampu menghilangkan bau pada air (deodorisasi). Ozon juga mampu menjalankan fungsi dekolorisasi atau menghilangkan warna akibat berbagai zat dan pewarna organik di dalam air gambut.

Setelah selesai proses di tabung pertama, air kemudian dialirkan ke tabung kedua. Saat keluar di tabung kedua, air sudah mulai tidak pekat lagi. Proses itu diulang berkali-kali sampai airnya berubah warna menjadi jernih. Untuk air gambut yang hitam pekat, dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Sedangkan kapasitas pengolahan mesin tersebut bisa mencapai 400 liter dalam waktu sejam.

Sutrisno mengatakan, setelah melalui proses penjernihan selama dua jam, air gambut yang semula hitam pekat sudah bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Misalnya mandi, mencuci, atau memasak. Pada tahap ini, air gambut yang semula tidak bermanfaat, bahkan bisa menimbulkan masalah, sudah dapat dimanfaatkan. ”Tapi belum bisa untuk diminum langsung,” ucapnya.

Untuk bisa menjadi air layak minum, masih dibutuhkan satu proses lagi yang disebut reverse osmosis (RO). Pada sistem tersebut, air gambut yang sudah layak guna itu disaring kembali. Ada beberapa jenis saringan yang dipakai. Mulai saringan dari bahan berupa batu kerikil hingga saringan berukuran mikron. Dengan saringan itu, sudah tidak ada mikroorganisme yang bisa lolos.

Sutrisno kemudian menyuguhkan air siap minum yang keluar dari keran perangkat inovasinya. Sempat cemas juga saat akan meminumnya karena bahan awalnya adalah air gambut. ”Tenang saja, untuk pameran ini, bahan dasarnya bukan air gambut. Tetapi dari air sumur,” terangnya. Sebab, stok air gambut milik Sutrisno tidak cukup jika harus dibagi-bagikan saat ada pameran.

Menurut Sutrisno, jika perangkatnya itu diproduksi masal, harga satu unitnya bisa setara dengan rumah tipe standar di kawasan Bogor. Yakni Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tetapi, harga tersebut bisa ditekan jika alat diproduksi dalam jumlah banyak. Kemudian, ada spesifikasi perangkatnya yang dikurangi. Dia menegaskan, angka Rp 300 sampai 400 juta itu digunakan untuk membangun peranti standar penelitian yang benar-benar harus sempurna.

Sutrisno mencontohkan, untuk perangkat ozone generator, sebenarnya sudah ada produksi nasional di Surabaya. Tetapi, dia memilih generator ozon pabrikan Tiongkok. Sebab, setelah dihitung, kestabilan ozon yang dikeluarkan lebih maksimal.

Apakah sudah ada investor yang tertarik untuk memproduksi alat tersebut? Menurut Sutrisno, urusan memasarkan inovasinya sudah dipasrahkan ke Pusinov LIPI. Sebab, pegawai LIPI memang tidak boleh berjualan hasil inovasi langsung. Harus dikerjasamakan dengan dunia industri.

Tak berhenti di air gambut, Sutrisno kini sudah memikirkan rencana untuk membuat alat pengolah air laut agar layak pakai dan layak minum. Menurut dia, alat semacam itu pasti dibutuhkan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai. Sebab, selama ini air yang dikonsumsi masyarakat pesisir adalah air payau, yakni air tawar yang masih berasa asin. (*/c9/owi) M. HILMI SETIAWAN, Bogor

Sumber: www.jawapos.com

Diposting oleh hard Pada 27-April-2017 10:54:08

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id