Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Larangan Mengakses FB dan Youtube

Di instansi saya telah diberlakukan "Larangan" mengakses Facebook dan Youtube pada jam kerja. Kebijakan ini diambil karena ternyata banyak sivitas yang menggunakan FB dan YT di luar urusan pekerjaan kantor. Alasan lainnya adalah jaringan internal menjadi terganggu karena overload yg disebabkan penggunaan FB dan YT tersebut. Apakah kebijakan seperti ini efektif atau masih relevan saat ini?

Mengingat kita sudah berada pada era disruptif, dimana teknologi atau inovasi adalah sesuatu yg tidak bisa di tawar lagi.. Setiap bidang kehidupan terkena dampak perubahan akibat digitalisasi atau "e". Kita sudah banyak belajar dari berbagai bisnis konvensional yang telah menggurita dijamannya ternyata rontok alias hancur berkeping-keping karena menutup diri terhadap perubahan ini (lihat gambar). Namun ada pula yang mampu beradaptasi, berubah dan akhirnya mampu bertahan. Contohnya harian kompas dengan kompas.com, bluebird dengan my blue bird taxi apps, etc.

Rasanya kurang bijak kalau FB dan YT dianggap mengganggu kinerja lembaga atau produktivitas karyawan sehingga sampai harus di tutup aksesnya.. Penggunaan FB Pages dan YT channel sudah barang tentu luas peruntukannya selain untuk marketing, commerce dan yg berhubungan dengan image lembaga, sebut saja utk sosialisasi hasil-hasil penelitian ke publik. FB, YT dkk juga bisa menjadi obyek penelitian computing ranah big data dan data mining atau penelitian sosial computing, etc. Ternyata teman2 di bidang non-eksakta juga membutuhkan media FB dan YT untuk mendukung risetnya. Jadi manfaatnya sangat banyak :)

Kalau tujuannya untuk tidak mengganggu produktivitas pegawai, lebih baik dikaji dulu apakah FB dan YT merupakan faktor utama yang menjadi penyebabnya? Saya yakin byk faktor lainnya yg jg berpengaruh seperti fasilitas, infrastruktur, insentif, dukungan manajemen, dll.

Lebih elok mungkin dilihat saja output (luaran) pegawainya apakah sudah terpenuhi sesuai dengan PK (Perjanjian Kinerja) yg ditetapkan.. Misalnya untuk peneliti sudah berapa jumlah publikasi ilmiahnya? Berapa jumlah sitasi atau h-indeks? Berapa grant hibah yang dia peroleh? Atau patent yg granted? Lebih baik sekarang bicara output atau outcomenya :) Jadi kalau ada sivitas yang tidak mencapai output/outcome yg sudah dijanjikan, kasih sanksi yang tegas. Sebaliknya jika ada yg berprestasi diberikan reward atau insentif.. Selama ini saya lihat belum berjalan optimal mekanisme ini (: Jangan lagi seperti dulu, "pintar goblok sama aja"

Penulis:  Darmawan Baginda Napitupulu S.T., M.Kom

Sumber: intra.lipi.go.id

 

Diposting oleh hard Pada 09-Januari-2018 14:40:04

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bkj@ujimutu.com, sp_pustan@mail.lipi.go.id