Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

Peran Perencana dalam Pembangunan

Menurut Kepmenpan nomor 16 tahun 2001, perencana adalah Pegawai Negeri Sipil (atau belakangan disebut Aparatur Sipil Negara/ASN) yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan perencanaan pada unit perencanaan tertentu. Perencana berkedudukan sebagai pelaksana kegiatan teknis fungsional perencanaan di lingkungan instansi pemerintah. Definisi ini berlaku bagi perencana yang bekerja di lingkungan instansi pemerintah dan berstatus sebagai ASN, dikenal sebagai Fungsional Perencana. Pada kenyataannya, dalam lingkungan non instansi pemerintah (swasta) juga terdapat profesi perencana yang tidak berstatus sebagai ASN. Meskipun tidak dapat disebut sebagai fungsional perencana, namun mereka juga menggeluti profesi perencana sesuai dengan kompetensi dan lingkup pekerjaan yang membutuhkan perencanaan. Profesi perencana, baik yang bekerja di instansi pemerintah maupun di sektor swasta, mempunyai peran yang cukup penting dalam pembangunan. 

Pada hakekatnya, perencanaan mengandung empat hal pokok, yaitu : 1) tujuan yang lebih baik di masa yang akan datang; 2) adanya sumber daya (alam, manusia, modal dan informasi); 3) adanya limitasi dan kendala; 3) efisiensi dan keefektivan. Kandungan perencanaan yang sangat luas tersebut membuat lingkup yang harus ditangani perencana juga sangat luas dan beragam. Sedangkan lingkup profesi perencana mencakup aspek ekonomi, sosial, lingkungan, kewilayahan, pembangunan, dll. Bahkan perencana terkadang bekerja dengan status profesi lain, seperti arsitek, ahli tata ruang, atau perencana yang bekerja di yayasan nirlaba (aktivis sosial/lingkungan). Pendeknya seluruh aspek hidup mengandung unsur perencanaan baik secara formal maupun non formal. Terlebih pada program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Sebagian besar lingkup pekerjaan perencana adalah membantu pemerintah dan masyarakat atau komunitas mempersiapkan hal-hal yang terkait dengan masa depan dalam mengelola perubahan atau hal-hal yang mungkin terjadi di masa datang. Seorang perencana akan dihadapkan pada berbagai aspek dan situasi yang beragam ketika melaksanakan pekerjaannya dan dituntut untuk mampu bekerjasama dengan profesi lain. Terutama perencana yang berkecimpung dalam pembangunan wilayah/kota (planolog) yang harus mempertimbangkan berbagai sector dalam suatu wilayah.

Dalam konteks pembangunan, peran perencana bukan sebagai pengambil keputusan, namun berfungsi menyiapkan alternatif-alternatif pilihan bagi pengambil keputusan. Untuk menghasilkan alternatif pilihan itu perencana harus mampu mendesain dan membentuk interaksi dalam suatu proses menuju sasaran umum yaitu tujuan pembangunan. Kemampuan dalam menghimpun data, menganalisis, dan mendesain sangat penting. Secara umum, perencana harus mempunyai kemampuan melakukan prosedur dan berinteraksi. Kemampuan prosedur yaitu mengetahui bagaimana bertindak dan melakukan seluruh cakupan dari fungsi yang dibutuhkan di dalam perencanaan. Kemampuan berinteraksi adalah kemampuan untuk melibatkan diri dengan pihak lain untuk melakukan proses perencanaan secara bersama-sama. 

Secara khusus, peran perencana dijabarkan oleh Rustiadi et all (2011) sebagai berikut :

  1. Perencana sebagai Analis. Ini merupakan peran dasar professional perencana yaitu berfungsi sebagai ahli analisis dan mensintesis data serta fenomena-fenomena yang terjadi. Keterampilan analisis berupa kemampuan untuk menguji dan melihat suatu masalah, mendesain metode dan strategi pengumpulan data, dan mengidentifikasi konsekuensi dari berbagai tindakan yang akan diambil.
  2. Perencana sebagai Organisator. Perencana berperan membawa anggota organisasi dan kelompok-kelompok dalam organisasi ke dalam proses perencanaan dan mengembangkan peran serta anggota untuk mendukung semua rencana. Sebagai organisator memerlukan kemampuan mengorganisasi dan politik. Kemampuan mengorganisasi adalah mendesain berbagai kegiatan untuk melilbatkan para individu ke dalam perencanaan. Berarti perencana harus mengidentifikasi berbagai macam tipe kepemimpinan, mengembangkan kemampuan memimpin, mengkreasikan berbagai komitmen atas perencanaan, dan memotivasi individu dan kelompok untuk menerima perencanaan dengan obyektif. Sedangkan kemampuan politik  adalah kemampuan untuk mengakses dan memanfaatkan keputusan, termasuk kemampuan untuk mengidentifikasi pengaruh dan control, dan mempengaruhi keputusan untuk mencapai tujuan kegiatan.
  3. Perencana sebagai Perantara. Kegiatan perencanaan melibatkan interaksi antar organisasi yang berpotensi menghasilkan kesepakatan maupun konflik. Perencana dapat bertindak sebagai penengah antar organisasi atau antar kelompok dalam organisasi dan berfungsi mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai macam keinginan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan. Peran perantara memerlukan kemampuan untuk memahami permasalahan sehingga dapat menengahi persoalan yang sedang terjadi, menggunakan teknik persuasive dan melakukan tawar menawar untuk menghasilkan keputusan. 
  4. Perencana sebagai Pendamping (Fasilitator). Perencana dapat bertindak sebagai pendamping (advocate) untuk sebuah kelompok masyarakat atau organisasi dalam suatu kegiatan pembangunan wilayah. Proses pembangunan seringkali menimbulkan permasalahan dalam masyarakat berkaitan dengan isu-isu kemiskinan, perumahan, lingkungan hidup, kesehatan. Perencana dapat menjadi berperan sebagai pendamping masyarakat untuk memahami isu yang mengemuka dalam suatu kegiatan pembangunan sehingga seluruh kepentingan dapat mengemuka dan dibicarakan. Sehingga terjalin komunikasi dan hubungan yang baik antara masyarakat dengan pemerintah sebagai pelaku pembangunan. Sebagai pendamping, perencana harus memiliki kemampuan politik, tawar menawar, membujuk, meyakinkan, dan mempengaruhi, serta kemampuan publisitas yang baik sebagai pembicara.
  5. Perencana sebagai “enabler”. Seperti halnya peran sebagai pendamping (advocate), perencana sebagai enabler juga berfungsi sebagai fasilitator yang mengarahkan hasil sasaran yang akan dicapai sendiri oleh kelompok masyarakat yang didampingi. Peran sebagai enabler berarti memimpin secara tidak langsung, sedangkan peran sebagai pendamping (advocate) memimpin secara langsung dan aktif. Sebagai enabler, perencana harus mempunyai kemampuan mendiagnosis, dapat bekerja dengan berbagai individu dan kelompok yang berbeda, mahir dan mengetahui dinamika suatu tim bekerja.
  6. Perencana sebagai Pendidik. Peran sebagai pendidik dilakukan dalam dua cara. Pertama, perencana melakukan pendidikan di masyarakat dengan cara berbicara di depan umum, menulis artikel atau buku tentang perencanaan. Kedua, dalam hubungan perencana dengan masyarakat/klien dalam sistem klien. Perencana dan klien saling berbagi atau transfer pengetahuan. Perencana berbagi informasi di dalam pengembangan perencanaan. Sedangkan klien berbagi pengetahuan yang dimiliki dari pengalamannya sebagai masyarakat. 
  7. Perencana sebagai Penyebar Informasi. Peran sebagai penyebar informasi dilakukan dalam upaya menciptakan kesadaran tentang perlunya perencanaan terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat melalui publikasi. Publikasi merupakan tahap yang penting dalam perencanaan, terutama membantu sebuah isu yang terjadi pada suatu komunitas menjadi agenda public dan memberikan informasi kepada public maupun elite tentang suatu permasalahan secara umum. Kemampuan sebagai penyebar informasi meliputi kemampuan berbicara di depan public, menyiapkan laporan dan brosur, menulis berita dan artikel. 

Melihat begitu luas dan beragamnya peran perencana tidak heran apabila profesi perencana dapat dijalankan di berbagai bidang, bahkan muncul dengan nama profesi yang berbeda sebagaimana dijelaskan di awal. Peran tersebut diisi secara bersama-sama dan saling melengkapi untuk menghasilkan perencanaan terbaik yang dapat dihasilkan dan dilaksanakan dalam suatu proses pembangunan. 

 

(Tangsel, 10 September 2018)

 

 

Rujukan :

Kepmenpan No.16 Tahun 2001 tentang Jabatan Fungsional Perencana dan Angka Kreditnya

Rustiadi, E., Saefulhakim, S., Panuju, Dyah R. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Crestpent Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta. 

Sujarto, D. 2012. Materi Diklat. Pengertian dan Perkembangan Teori Perencanaan. Sekolah Arsitektur

Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Institut Teknologi Bandung. Bandung

Penulis: Mai Damai Ria

Sumber gambar:  https://9gag.com/gag/aBQdpL2/your-plan-vs-reality

Diposting oleh hard Pada 10-September-2018 08:19:54

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bpsmtp@mail.lipi.go.id, sp_pustan@mail.lipi.go.id