Loading.....
PENELITIAN | PENGUJIAN | PELATIHAN | BIMBINGAN TEKNIS

ANALISIS POSTUR KERJA DENGAN METODE RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT (REBA) PADA KASUS PEMASANGAN MATERIAL PLY DI DEPARTEMEN BUILDING TIRE PLANT B PT “X”

I.          PENDAHULUAN

PT “X.”, yang bergerak dalam bidang manufaktur ban salah satu produknya adalah ban motor, telah memposisikan diri sebagai produsen ban terkemuka dan terbesar di Indonesia dengan kualitas yang teruji. Salah satu proses pembuatan ban tersebut adalah building tire department, dimana proses ini merupakan proses perakitan dari semua bahan untuk dijadikan green tire. Dalam prosesnya pemasangan semua bahan material seperti ply, tread dan bead grommet dalam mesin building dilakukan secara manual.

     Permasalahan yang sering timbul dalam pemasangan material pada mesin building tire adalah terkait dengan ergonomi. Resiko yang dapat ditimbulkan akibat aktivitas pemasangan material adalah masalah gangguan pada sistem muskulosketal atau musculoscetal disorders (MSDs). Masalah tersebut lazim di alami para pekerja yang melakukan gerakan yang sama dan berulang secara terus menerus. Pekerjaan dengan beban yang berat mengakibatkan pengerahan tenaga yang berlebihan dan postur yang salah seperti memutar dan membungkuk dan membawa beban adalah merupakan resiko terjadinya keluhan musculosketal dan kelelahan dini.

     Studi tentang muscolosketol disorder pada bagian Machine Building tire menunjukkan bahwa keluhan otot skeletal yang paling banyak di alami pekerja adalah otot bagian pinggang ( low back pain ) dan bahu. Cidera otot ini disebabkan karena proses pemasangan material ply pada mesin building yang beratnya sebesar 60 kg. Menurut data didepartemen building jumlah kecelakaan cidera otot selama tahun 2013 mencapai 20 kasus.

    

II.       LANDASAN TEORI

A.    Ergonomi

Ergonomi atau Ergonomics sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu Ergo yang berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan atau hukum. Ergonomi mempunyai berbagai batasan arti, di Indonesia disepakati bahwa ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal- optimalnya. [2]

B.  Musculoskeletal Disorders ( MSDs )

Musculoskeletal Disorders ( MSDs ) merupakan penyakit atau gangguan pada jaringan lunak berupa otot,sendi,ligamen,tendon,dan tulang rawan serta pada sistem saraf. Gangguan tersebut dapat mempengaruhi hampir seluruh jaringan termasuk saraf dan selubung tendon. Adapun bagian-bagian tubuh yang biasanya di pengeruhi oleh MSDs yaitu tangan, pergelangan tangan, jari tangan, leher, tulang punggung, kaki, dan bahu. Namau yang paling sering terjadi adalah di bagian lengan dan tulang punggung. [3]

C.    Rapid Entire Body Assesment ( REBA )

Rapid Entire Body Assesment ( REBA ) merupakan salah satu metode yang digunakan dalam menilai risiko Musculoskeletal Disorders ( MSDs).Metode analisis risiko ini membagi tubuh dalam enam bagian yaitu tulang punggung, leher, kaki, lengan atas atau bahu, lengan bawah atau siku, serta pergelangan tangan. Selain itu, dalam proses analisisnya metode ini juga mempertimbangkan faktor aktifitas otot, daya genggam alat, serta beban atau tenaga yang digunakan saat bekerja.Secara lebih rincinya dapat dilihat dalam prosedur analisis risiko menggunakan metode REBA berikut ini: [1]

1. Obervasi lapangan

2. Tentukan postur yang akan dianalisis

3. Pemberian skor

D.    Nordic Body Map

Salah satu alat ukur ergonomik sederhana yang dapat digunakan untuk mengenali sumber penyebab keluhan muskuloskeletal adalah Nordic Body Map. Melalui Nordic Body Map dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman (agak sakit) sampai sangat sakit. [2]

E.     Membuat Tabel Distribusi Frekuensi

Untuk membuat sebuah Tabel Distribusi Frekuensi, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menghitung Rentang/Range (R), yaitu Data terbesar dikurangi dengan Data terkecil.

2. Menentukan jumlah kelas, dengan menggunakan rumus Sturges: 

K = 1 + 3,3. Log n

3. Menghitung Panjang Kelas atau Interval, dengan rumus:

Panjang Kelas (P) = Rentang (R) : Jumlah Kelas

4. Menghitung jumlah Frekuensi dengan Tally atau melidi dalam Kolom Tally sesuai dengan banyaknya data.

5. Setelah jumlah keseluruhan Frekuensi ditemukan, kemudian kolom Tally dihilangkan dalam Penyajian Data dalam bentuk Tabel Distribusi Frekuensi.

III.  HASIL PENELITIAN

A.   Gambaran Umum Pekerjaan

Proses Building merupakan salah satu tahapan pada proses pembuatan suatu ban. Proses ini menggabungkan material-material penyusun ban seperti ply, bead dan tread menjadi green tire.

B. Karakteristik Subjek Penelitian

Berdasarkan kuisioner nordic body map yang telah disebar kepada 242 orang responden. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pekerja yang paling banyak adalah pekerja yang berumur 28-36 tahun dengan jumlah 102 orang. Sedangkan pekerja yang paling sedikit adalah pekerja yang berumur 46-54 tahun dengan jumlah pekerja 18 orang.

C. Keluhan MSDs ( Musculoskeletal Disorders )

Untuk mengetahui keluhan MSDs menggunakan kuesioner Nordic Body Map yang langsung ditujukan kepada pekerja di mesin Building Plant B. Keluhan MSDs yang dominan terjadi yaitu keluhan pada leher bagian atas sebanyak 242 orang (100%), bahu kiri dan bahu kanan sebanyak 238 orang (98,3%), lengan atas kiri sebanyak 233 orang (96,3%), punggung sebanyak 242 orang (100%), lengan atas kanan sebanyak 236 orang (97,5%), pinggang sebanyak 242 orang (100%), bokong sebanyak 240 orang (99,2%), lengan bawah kiri dan kanan sebanyak 242 orang (99,2%), pergelangan tangan kiri sebanyak 209 orang (86,4%), pergelangan tangan kanan sebanyak 208 orang (85,95%), paha kiri dan kanan sebanyak 242 orang (100%).

A.    Perhitungan Postur Kerja dengan Metode REBA

1.      Postur Kerja Saat Mengambil Gulungan Ply

Gambar 1. Postur Kerja Saat Mengambil Gulungan Ply

Nilai Skor A    = Nilai Tabel A + Skor Beban REBA= 5 + 2 = 7.

Nilai Skor B    = Nilai Tabel B + Coupling= 5 + 0= 5.

Penilaian skor akhir adalah 9 dengan katagori level resiko tinggi dan perlu perubahan secepatnya.

2.      Postur Kerja Saat Mengangkat Gulungan Ply

Gambar 2. Postur Kerja Saat Mengambil Gulungan Ply

Nilai Skor A    = Nilai Tabel A + Skor Beban REBA = 5 + 2= 7.

Nilai Skor B    = Nilai Tabel B + Coupling= 4 + 0= 4.

Penilaian skor akhir adalah 8 dengan katagori level resiko tinggi dan perlu perubahan secepatnya.

3.      Postur Kerja Saat Memasang Gulungan Ply

Gambar 3. Postur Kerja Saat Memasang Gulungan Ply

Nilai Skor A    = Nilai Tabel A + Skor Beban REBA= 5 + 2= 7.

Nilai Skor B    = Nilai Tabel B + Coupling = 1 + 0= 1.

Penilaian skor akhir adalah 7 dengan katagori level resiko menengah dan perlu perubahan.

IV.    KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis melalui wawancara dengan responden, kuesioner Nordic Body Map, dan penilaian postur kerja, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.      Aktivitas kerja yang dilakukan pekerja di departemen yang diteliti berpotensi menimbulkan risiko MSDs

2.      Dari hasil kuesioner Nordic Body Map didapatkan bahwa untuk keluhan pekerja di area Building secara umum lebih dari 50%  pekerja mengalami sakit di beberapa bagian tubuh.

3.      Dari ketiga aktivitas kerja yang dilakukan, tingkat risiko ergonomi tertinggi terdapat pada aktivitas saat mengambil gulungan ply.

4.      Setelah diketahui hasil dari penelitian ini, maka untuk optimalisasi stasiun kerja di mesin Building guna mengurangi risiko MSDs diperlukan alat yang difungsikan untuk membantu pekerja agar dalam bekerja terhindar dari postur janggal dan penggunaan tenaga yang berlebihan pada saat bekerja.

B.     Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka dapat dilakukan upaya pengendalian mengenai risiko MSDs yaitu antara lain sebagai berikut :

1.    Melakukan metode kerja yang benar untuk mengeleminasi penggunaan tenaga yang berlebihan atau pergerakan yang tidak seharusnya.

2.      Mendesain alat bantu untuk mengurangi tingkat risiko MSDs dan  mengurangi penggunaan tenaga yang besar saat mengangkat ply. Untuk desain alat bantu ini disarankan adanya penambahan Hand lift.

3.      Pekerja sebaiknya melakukan peregangan otot sejenak untuk relaksasi

4.      Menggunakan media pemasangan poster di area kerja mengenai postur kerja yang baik dan benar sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.

5.      Memberikan pendidikan dan pelatihan tentang ergonomi kepada pekerja

6.      Pengaturan waktu kerja dan istirahat yang seimbang

7.      Melakukan pengawasan yang intensif guna mencegah secara lebih dini terhadap kemungkinan terjadinya risiko sakit akibat kerja

DAFTAR PUSTAKA

[1].    McAtamney, Lynn & Sue Hignett. Rapid Entire Body Assessment. In Neville Stanton et al. (Ed). Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods. USA : CRC Press. 2005.

[2].    Nurmianto, Eko, Ergonomi Konsep Dasar dan Applikasinya, Edisi pertama, ITS, Surabaya, 1998.

[3].    OSHA. Ergonomics : The Study Of Work. U.S. Departement of Labor Ocuupational Safety and Health Administration. 2000.

 

Penulis: Ir.Djoko Agustono, m.sc

Diposting oleh hard Pada 06-November-2018 14:51:38

Kembali Share via facebook
   
PUSAT PENELITIAN SISTEM MUTU DAN TEKNOLOGI PENGUJIAN
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (P2SMTP-LIPI)
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Setu, Tangerang Selatan, Banten Indonesia
Telp : (+62-21) 7560 227, 75871137, 75871130, Fax : (+62-21)7560227, 75871137
email : smtp@mail.lipi.go.id, amteq@mail.lipi.go.id, bpsmtp@mail.lipi.go.id, sp_pustan@mail.lipi.go.id